Latest News

Showing posts with label Keuskupan Bandung. Show all posts
Showing posts with label Keuskupan Bandung. Show all posts

Monday, July 16, 2012

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda

1. SEJARAH GEREJA GARUT
Kota Garut walaupun kecil, sudah memiliki gedung gereja yang cukup tua. Berdasarkan catatan yang ada, karya gereja St. Maria � Garut telah dimulai sejak tahun1914, ordo Jesuit dalam sejarah gereja adalah yang pertama berkarya di Garut bersama dengan pastor Projo. Menurut sesepuh pada zaman kolonial dulu, kota Garut merupakan tempat istirahat bagi orang-orang Belanda, karena kota Garut pada zaman itu keadaan alamnya indah dan nyaman, sejuk namun hangat dengan sumber air panasnya. Kala itu disekitar kota Garut terdapat banyak perkebunan teh, sehingga banyak orang Belanda yang tinggal di daerah perkebunan itu dan sebagian ada yang beragama Katolik. Untuk memenuhi keperluan tempat beribadah, dibangunlah gedung gereja kecil yang berkapasitas maksimal 200 orang, gedung gereja ini diberkati pada tanggal 22 Juni 1917.

Tahun 1927, mulailah pastor-pastor Ordo Salib Suci berkarya di daerah Parahyangan ini, termasuk kota Garut, maka sejak tanggal 9 Februari 1927 karya gereja diserahkan kepada ordo Salib Suci. Sebenarnya Suster Carolus Borromeus ( CB ) juga pernah berkarya di Garut. Mereka memiliki susteran, mengelola Taman Kanak-Kanak HIS. Masuknya tentara Jepang ke Indonesia terjadilah perang tahun 1942 mengakibatkan mereka meninggalkan kota Garut.

Pada periode tahun 1943 �1949 Paroki Santa Maria Garut mengalami masa sulit. Tidak ada imam dan tidak ada permandian. Hanya kadang-kadang saja Pastor H. Riechert, OSC yang tidak diinternir oleh Jepang dapat mengunjungi Garut. Kalau kebetulan ada Misa Kudus, umat yang hadir hanya sekitar 18 orang saja.

Tahun 1947 tentara Belanda menduduki kota Garut lagi, Pastor LK. Soemadiwirjo, OSC menetap tinggal di Garut, sehingga pelajaran agama, permandian dan Misa Kudus mulai dapat dilaksanakan lagi kendati masih belum menentu.

Periode tahun 1950 �1964, setelah masa tidak menentu berlalu mulailah Gereja berkembang lebih baik. Belanda mulai meninggalkan Garut. Pelajaran agama dan permandian dari orang-orang Garut semakin bertambah. Untuk memberikan pelayanan bidang pendidikan didirikan SMA Katolik Santa Maria pada tahun 1953, kemudian pada tahun 1955 SMP Katolik diresmikan, menyusul kemudian TK � SD Katolik mulai menerima murid pada tahun 1962 dengan menggunakan ruang belajar Pastoran akhirnya Pastor H. Van Iperen OSC membangun Gedung Sekolah TK � SD di Jln. Telaga Bodas ( sekarang Jln. Jend. A.Yani 17 ). Dengan beroperasinya sekolah-sekolah tersebut, calon-calon permandian makin bertambah. Peran Bapak RF. Slamet Dirdjosoebroto sangat besar dalam merintis berdirinya sekolah-sekolah tersebut. Pada periode ini tiga orang pastor yang namanya sangat dikenal di Garut sampai saat in ialah J. Scharff, OSC, P. Bossman, OSC dan Van Iperen, OSC.

Periode tahun 1965 � 1984, pada tahun 1965 tercatat 382 orang yang menerima sakramen permandian. Sungguh suatu panenan yang melimpah. Pastor A. Gani, Pr. Yang saat itu bertugas di Garut sangat sibuk. Ini disebabkan karena saudara-saudara kita dari Tatar Sunda Asli (ADS) pada tahun tersebut berbondong-bondong mengikuti pelajaran agama kemudian menerima sakramen permandian. Mereka sebagian besar tinggal di kampung Pasir menjadi stasi dari Paroki Garut yang dikunjungi setiap hari Minggu sore untuk Misa Kudus. Sejak itu perkembangan umat Katolik semakin mantap.

Hambatan mulai terasa pada tahun 1974 bahwa tidak ada pastor yang menetap di paroki Garut. Sejak saat itu Paroki Garut dilayani oleh Pastor dari Bandung atau Tasikmalaya. Pada bulan September 1981 peristiwa yang memprihatinkan tiba-tiba terjadi, hampir semua umat Katolik Stasi Pasir menghadap pastor paroki menyatakan keluar dari Gereja Katolik dan menyerahkan surat permandian mereka. Ini mungkin terjadi akibat dari tekanan-tekanan yang mereka terima dari masyarakat sekitar dan situasi sosial politik yang tidak mendukung, termasuk pendirian tempat ibadah pun dirobohkan. Pastor C.Kluskens, OSC sebenarnya telah berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi umat Garut. Ia dikenal sebagai pastor yang dekat dengan umat.

Mulai pertengahan tahun 1982 kembali mendapat pastor yang menetap di Garut, kehidupan paroki mulai ditata, organisasi kegerejaan dihidupkan. Dewan Paroki mengatur, merencanakan segala sesuatu demi kemajuan paroki St. Maria Garut. Pada tahun 1982 ini paroki Garut yang sebelumnya dilayani oleh pastor-pastor dari Ordo Salib Suci diserahkan kepada pastor Projo.

Berkenaan dengan perkembangan jumlah umat dan kapasitas gedung gereja yang kurang memadai, maka pada tahun 1990 diadakan renovasi kecil dengan menambah kapasitas ruang gereja yaitu yang semula ruang sakristi pada sayap kanan dan ruang pertemuan di sayap kiri digunakan untuk ruang ibadah. Sakristi dipindahkan ke sebagian bekas ruang pertemuan. Bersamaan dengan itu dibangun aula gereja yang berada di belakang gedung gereja.

Pada tahun 2005 gedung gereja di Paroki Garut ini telah berusia 88 tahun dan selama itu pula belum pernah diadakan perombakan gedung yang berarti. Tembok gedung tampak condong dan miring ke arah luar. Melihat situasi ini dan untuk menjaga kelestarian dan kenyamanan beribadah maka mulai tanggal 2 Mei 2005 dilaksanakan renovasi dengan mengganti struktur bangunan menggunakan baja. Ditambah pula kapasitas ruangan dengan melebarkan ke arah sayap kanan dan kiri serta balkon. Diharapkan renovasi ini selesai dan dapat diresmikan pada Natal 2005.

Perlu diketahui bahwa pada tahun1992 telah dirintis sebuah stasi di Pameungpeuk � 90 km ke arah selatan kota Garut. Jumlah umatnya masih kecil yaitu 16 jiwa dan dilayani sebulan satu kali pada hari Jumat ketiga. Selain itu Paroki Garut juga diserahi untuk melayani umat Stasi Sumedang dengan jumlah umat 71 jiwa. Dikunjungi tiap hari Minggu sore untuk Misa Kudus dan Pembinaan Iman Anak dan pelajaran agama.

Menurut catatan statistik di Paroki, jumlah umat Paroki Garut sampai dengan 31 Desember 2008 terdiri dari :
Umat Paroki St. Maria : 852 Jiwa
Umat Stasi Sumedang : 55 Jiwa
Umat Stasi Pamengpeuk : 22 Jiwa
Total � 929 jiwa

Menurut buku permandian di Paroki Garut, Pastor-pastor yang pernah berkarya di Garut adalah :
No Nama Tahun berkarya
1. A. Van Asseldonk, OSC Antara 1934 - 1942
2. J. Scharff, OSC
3. A. Kooyman, OSC
4. J. Goumans. OSC
5. Th. Scheerder, OSC
6. A. Van Dyk, OSC
7. J. Van de Pol, OSC
8. H. Reichert, OSC 1942 - 1946
9. L.K. Soemodiwiryo, OSC 1947
10. J.A. Van Duynhoven, OSC 1948
11. J. Scharff, OSC 1949
12. L.K. Soemadiwiryo, OSC 1951 - 1953
13. J. Bosman, OSC 1952 - 1957
14. H. Van Iperen 1958 - 1963
15. A. Gani. Pr. 1968 - 1969
16. H. Kortum, OSC 1966 - 1967
17. A. Gani, Pr. 1968 - 1969
18. W. Straathof, OSC 1970
19. J. Souw Hong Goan, OSC 1970 -1974
20. R. Mertens, OSC 1974
21. J. Sunyata, OSC 1974 -1976
22. Ign. Putranto, OSC 1976 -1978
23. M. Rooyakkers, OSC 1978 - 1979
24. C. Kluskens, OSC 1979 - 1982
25. Anton Limyarto, Pr. 1982 -1990
26. S. Ferry Sutrisna Wijaya, Pr. 1990 - 1992
27. Y. Siswa Subrata, Pr. 1992 - 1993
28. Y. Handi Sadeli, Pr 1993 - 1996
29. P. Wirasmohadi Surjo, Pr. 1996 - 1998
30. Paulinus Wijaya, Pr 1998 - 2002
31. Petrus Agus Riantono, Pr. 2002 - 2008
32 Agus Nindia Nikolas, Pr 2009 - SEKARANG

Sumber : http://samarga09.multiply.com/journal/item/1

Wednesday, February 22, 2012

Sekilas Sejarah Gereja Santo Ignatius Cimahi

Tahun 1908 merupakan tonggak utama sejarah pelayanan gereja katolik Cimahi di mana pada tahun tersebut bangunan gereja yang didirikan oleh para imam dari ordo Serikat Jesus (SJ) secara resmi menggunakan nama pendiri ordo tersebut, Santo Ignasius Loyola (1491~1556) sebagai nama pelindung gereja yang terletak di Jalan Baros No. 8. Cimahi.

Namun demikian agama katolik atau umat yang beragama katolik di Cimahi, sudah ada jauh sebelum tahun 1908. Mereka bukan penduduk asli tetapi mereka mula-mula adalah para pendatang yang berasal dari negeri Belanda maupun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka ditugaskan di Cimahi sebagai tentara Kerajaan Belanda (KL) maupun sebagai Tentara Pemerintahan Hindia Belanda (KNIL). Jadi pengambilan tahun 1908 sebagai tonggak bukanlah tahun dimana untuk pertama kali ada umat katolik di Cimahi tetapi tahun dimana untuk pertama kalinya digunakan nama St. Ignatius Loyola untuk gedung gereja yang dibangun di Cimahi yang pada tahun 2008 berusia 100 tahun.

Bahwa umat katolik Cimahi sudah ada sebelum tahun 1908 dapat dibuktikan dengan adanya berbagai pelayanan yang diberikan kepada umat, dan pembangunan gedung gereja yang dilakukan oleh pastor-pastor SJ. Kedatangan pastor-pastor SJ ke Cimahi bersamaan dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer Hindia Belanda sebagai bagian dari wilayah pertahanan militer kolonial Belanda di tanah Priangan.

Cimahi Kota Militer

Sejak masa pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808-1811), Cimahi direncanakan untuk dijadikan sebagai daerah pangkalan militer Pemerintah Hindia Belanda guna membantu pertahanan militer di pulau Jawa. Dipilihnya Cimahi sebagai daerah pangkalan militer dengan pertimbangan; letak geografisnya yang strategis, berada di daerah pedalaman yang dilalui jalur rel kereta api maupun jalan raya Bogor � Bandung dan Cikampek serta jalur kereta api Batavia � Bandung. Pada perkembangannya kemudian Cimahi juga merupakan benteng pertahanan untuk menjaga dan melindungi Pangkalan Udara Militer di Andir Bandung.

Untuk mewujudkan Cimahi menjadi kota militer, berbagai sarana penunjang seperti Kompleks Perumahan Perwira (di Jalan Gedung Empat sekarang), Markas Militer (sekarang Markas Kodim), Rumah Sakit Garnisun (sekarang RS Dustira), barak / tangsi (tersebar, saat ini menjadi berbagai pusat pendidikan TNI AD) Sositeit Perwira dan Penjara Militer (sekarang Rumah Tahanan Militer Poncol) dibangun antara tahun 1886 � 1887.

Cimahi juga merupakan kota markas besar garnisun militer Belanda yang mengawal pertahanan kota Bandung, didukung oleh tiga batalyon yaitu: Infanteri, Genie (Zeni) dan Artileri yang diresmikan pada bulan September 1896 dengan komandan pertamanya Majoor Infanteri C.A. Loenen dan ajudannya Luitenat J. A. Kohler.

Dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer, maka terjadilah penempatan tentara dalam jumlah relatif besar, baik Tentara Kerajaan Belanda (KL) maupun Tentara Hindia Belanda (KNIL) yang kebanyakan berasal dari Flores, Timor, Ambon, Menado dan Jawa. Tidak sedikit di antara keluarga tentara tersebut terdapat keluarga yang beragama katolik.

Untuk memenuhi kebutuhan rohani umat akan kegiatan beribadah, maka umat katolik yang berasal dari kalangan tentara dilayani oleh pastor tentara (aalmoezenir) sedangkan umat katolik yang bukan tentara dilayani oleh pastor yang berasal dari Cirebon karena sejak tahun 1878 Cirebon menjadi salah satu stasi dari Vikaris (wilayah pelayanan gereja katolik) Batavia yang dipercayakan kepada Pastor Adolphus Philippus Caspar Van Moorsel SJ. untuk melayani daerah Priangan dan Tegal. Dua tahun kemudian, pada tahun 1880 stasi Cirebon ditingkatkan statusnya menjadi Gereja Cirebon yang diresmikan oleh Uskup Mgr.A.Claessens dan diberi nama pelindung Santo Yosep.

Pada tahun 1895, Mgr. Walterus Staal SJ, Vikaris Apostolik Batavia meresmikan dan memberkati gedung gereja katolik pertama di Bandung yang diberi nama pelindung Santo Fransiskus Regis di sudut Jalan Scoolweg (Sekarang Gedung Bank Indonesia di Jl. Merdeka) dan Jalan Kerkweg (kini Jl. Wastukencana). Gereja tersebut kemudian dijadikan sebagai gedung pertemuan Katoliek Sociale Bond (KSB) setelah gereja Katedral St. Petrus yang terletak diseberangnya (sudut Jalan Jawa dengan Jalan Merdeka) dibangun dan diresmikan pada tanggal tahun 1922 oleh Mgr. E.Luypen.

Pendirian gereja tersebut dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya umat katolik di kota Bandung yang berasal dari kalangan pegawai pemerintah Hindia Belanda yang beragama katolik. Perkembangan itu terjadi karena sejak tahun 1884 hubungan kereta api antara Bandung dan Batavia semakin intensif sehingga Bandung berkembang menjadi kota besar.

Dengan berdirinya Gereja St. Fransiskus Regis, maka sejak tahun 1907 Bandung menjadi stasi baru dengan pastornya J. Timmers SJ. dan dibantu oleh pastor Fv. Santen SJ, maka umat katolik yang berada di Cimahi dilayani secara lebih intensif oleh kedua pastor tersebut secara bergantian sebulan sekali. Hal ini terjadi karena Cimahi termasuk wilayah stasi Bandung yang semula merupakan bagian dari Paroki Santo Yosep Cirebon. Pada tanggal 13 Februari 1907 Cimahi terpisah dari Cirebon dan berdiri sendiri sebagai stasi. Mengenai perkembangan umat, ada sebuah catatan di buku permandian Paroki St. Yosep Cirebon yang menunjukkan bahwa pada tahun 1903 di Cimahi sudah ada umat yang dipermandikan.

Pembangunan Gedung Gereja

Sebulan sekali perayaan misa ekaristi dipersembahkan di sebuah ruang kelas di Ambonsche School di Tagog (SMP Negeri I Cimahi sekarang). Hal itu dinilai kurang memadai karena kehidupan beragama yang lebih semarak dan bersemangat dinilai sulit dikembangkan dengan sarana yang terbatas tersebut. Melihat kenyataan itu, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus S. Luypens SJ. (1898-1923) menganjurkan agar di daerah-daerah yang ada umat katoliknya, dibangun gedung gereja sebagai identitas diri umat katolik.

Maka pada tahun 1906 dimulai usaha pembangunan gedung gereja di Cimahi di atas sebidang tanah bantuan dari Pemerintah Hindia Belanda yang lokasinya di pertigaan Baros Weg (Jalan Baros) dan Prins Hendrik Laan (sekarang Jalan Jend. Sudirman).
Dana yang dipakai untuk pembangunan gedung gereja diperoleh dari Dep. Onderwys en Eridienst (Dep. Pendidikan dan Agama) atas prakarsa seorang awam bernama Riviera de Verninas, serta bantuan dari para opsir-opsir bagian Genie/Zeni dan sumbangan dari negeri Belanda.

Pembangunan gedung gereja awal yang luasnya 8 x 16 meter ini, berbentuk lurus dengan fascade (tampak muka) bergaya neo romantic dengan langit-langit dan jendela berbentu melengkung. Altar menyatu dengan tabernakel terbuat dari kayu jati berukir bergaya gothic dengan salib dari baja bertengger di bumbungan gereja. Pada waktu perluasan gereja, salib itu dipindahkan di atas atap pintu utama sebelah selatan sampai sekarang. Pembangunan periode tersebut dilakukan dibawah pengawasan Pastor Martinus Timmers SJ dan Pastor Jacobus van Santen SJ (1907), diteruskan oleh Pastor Joanes Kremer SJ (1908). Pembangunan yang tidak disertai gedung pastoran itu, memakan waktu lebih kurang 2 tahun, selesai pada tanggal 20 Desember 1908 dan mampu menampung umat sebanyak 100 � 150 orang.

Pemberkatan dan Pemberian Nama

Pemberkatan gedung gereja yang dibangun tanpa kupel (menara) itu dilakukan pada tanggal 20 Desember 1908 oleh Pastor Joanes Kremer SJ dan diberi nama pelindung Santo Ignatius Loyola. Ignasius adalah seorang Santo (orang suci dalam iman katolik) mantan perwira Kerajaan Spanyol yang menjadi imam dan pendiri Ordo Serikat Yesus. Pemberian nama tersebut sangat mungkin berkaitan erat dengan keberadaan kota Cimahi sebagai kota garnisun, gedung gereja yang ada di tengah-tengah perumahan militer dan umat perdananya adalah kalangan militer.

Meskipun pemberkatan dilakukan pada tanggal 20 Desember 1908, tetapi hari jadi Gereja Santo Ignatius Cimahi diperingati setiap tanggal 31 Juli, sesuai dengan peringatan pesta nama St. Ignatius Loyola.

Pembangunan Perluasan Bangunan Gereja

Seiring dengan berjalannya waktu, maka perkembangan jumlah umat semakin hari semakin bertambah sehingga dirasa perlu untuk memperluas gedung gereja. Pada tanggal 30 April 1925, gedung gereja diperpanjang sehingga ukurannya menjadi 8 x 24 meter.
Sedangkan bentuk gedung gereja seperti salib dengan menara seperti yang ada sekarang, adalah hasil pelebaran yang dilakukan pada tanggal 31 Juli 1930 oleh pastor J. de Rooij OSC. Selain pelebaran gedung gereja, dibangun pula pastoran (rumah tinggal pastor) dan gedung pertemuan yaitu gedung Sugiyapranoto sekarang. Peresmiannya dilakukan oleh Mgr. J. H. Goummans OSC pada tanggal 2 April 1933 bertepatan dengan 25 tahun berdirinya gereja di Cimahi.

Selain berkarya dan memberikan pelayanan di bidang rohani, gereja saat itu telah memberikan pelayanan dibidang sosial, pendidikan dan kesehatan, meskipun masih sangat terbatas.

Berdirinya Paroki St. Ignatius Cimahi

Sebelum serah terima dilakukan, gereja St. Ignatius Cimahi berubah statusnya dari Stasi menjadi Paroki pada tanggal 7 Juni 1928. Meskipun demikian, Paroki baru ini belum memiliki pastoran sehingga belum ada pastor yang tinggal menetap.
Pelayanan terhadap umat masih dilakukan oleh pastor-pastor yang berasal dari Bandung. Pada saat itu jumlah umat tercatat sebanyak lebih kurang 135 orang yang terdiri dari 115Orang Eropa dan 20 orang non Eropa.

Tahun 1928 sekumpulan opsir yang beragama katolik membeli sebuah rumah di daerah Tagog untuk tempat rekreasi dan pertemuan. Rumah tersebut diberi nama Militer te Huis dan kemudian pada tahun 1960 an namanya diganti menjadi Panti Cengkrama. Rumah tersebut akhirnya dihibahkan kepada gereja dan oleh gereja dibangun menjadi gedung serba guna dan Gereja St. Agustinus sampai sekarang.

Pada tahun 1930 Pastor Johanes de Rooij OSC. tinggal dan menetap di Cimahi, mula-mula di daerah Tagog (sekitar daerah apotik Omega sekarang) kemudian pindah ke rumah sewaan di Prins Hendrik Laan (sekarang letaknya di Ubug pas di tusuk sate ujung jalan Oerip Soemoharjo). Ia adalah pastor pertama yang menetap di Cimahi. Setelah kurang lebih 3 tahun bekerja sendiri, kemudian datang pastor Dirk Koster OSC. sebagai pastor pembantu pada tahun 1933, karena semakin luasnya wilayah pelayanan dan umat yang harus dilayani.

Disaat itulah mulai dipikirkan untuk membangun gedung pastoran, gedung pertemuan dan gedung sekolah. Rencana pembangunan gedung sekolah dibatalkan karena lahan yang tersedia kurang luas.

Pembangunan Gedung Pastoran, Gedung Peremuan dan Perluasan Gereja

Pada tanggal 31 Juli 1930 dimulailah upaya pembangunan gedung pastoran dan gedung pertemuan sekaligus perluasan gedung gereja oleh Pastor J. de Rooij, sebagai pastor paroki. Gedung gereja yang semula berukuran 8m x 16m diperluas, ukurannya menjadi 8m x 24m, bentuknya lurus, posisi mengarah ke Timur � Barat dengan pintu utama di sebelah Timur. Gedung pastoran dibangun di sebelah Utara gereja agak ke arah Timur Laut dan digunakan sampai awal tahun 2004. Pastor J. de Rooij adalah pastor paroki pertama yang untuk pertama kalinya menempati pastoran baru tersebut. Sedangkan gedung pertemuan yaitu Gedung A. Sugiyapranoto yang digunakan sampai sekarang dibangun di samping sebelah Timur gereja.

Pada tanggal 20 September 1933 dilakukan peletakan batu pertama pada acara perluasan gedung gereja dilakukan oleh pastor Antonius van Asseldonk. Bangunan gereja yang diperluas berbentuk salib dilengkapi dengan sebuah menara lonceng dan sebuah lonceng besar yang diberi nama Angelus (para malaikat) digantungkan disitu sejak 9 Juni 1935. Pembangunan dilakukan oleh pemborong yang bernama Lim A Goh dari Bandung dibawah pengawasan de Leeuw sebagai toezicht. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan tersebut sekitar 9.000 gulden.

Pada tanggal 2 April 1934, bertepatan dengan Hari Raya Paskah dan 25 tahun gereja St. Ignatius Cimahi, Mgr. Jacobus Hubertus Gouman OSC meresmikan bangunan gereja yang sudah selesai diperluas. Perluasan gedung gereja dilakukan kembali karena umat paroki Cimahi semakin bertambah dan wilayah pelayanan pastoralnya semakin luas.
Gedung gereja yang sudah diperluas bentuknya seperti gedung gereja sekarang ini dan mampu menampung umat sebanyak 500- 600 jemaat.

25 Tahun Gereja Santo Ignatius Cimahi

Peringatan seperempat abad gereja St. Ignatius Cimahi ditandai dengan peresmian perluasan bangunan gereja yang sebelumnya sudah diperluas oleh Mgr. J.H.Gouman OSC. Prefek Apostolik Bandung I yang diangkat pada tanggal 27 Mei 1932 dan dilantik oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Antonius van Velsen SJ. pada tanggal 15 Agustus 1932 di gereja St.Petrus Bandung.

Hal itu terjadi karena sejak tanggal 20 April 1932, berdasarkan Brevis Apostolica Paus Pius XI, wilayah Bandung dipisahkan dari Vikaris Batavia menjadi Perfektus Bandung.

Dalam usianya yang sudah 25 tahun, kegiatan pelayanan diberikan kepada umat khususnya berkaitan dengan permandian, komuni pertama, sakramen penguatan dan perkawinan.

Wilayah pelayanan paroki Cimahi saat itu sangat luas meliputi Purwakarta, Cikampek, Karawang, Pamanukan, Subang dan daerah-daerah disekitarnya. Hal inipun tentu membutuhkan jumlah pelayan/pastor yang memadai. Untuk kebutuhan itu, maka didatangkan seorang pastor pembantu yaitu pastor Dirk Koster OSC.

Masa Menjelang dan Paska Kemerdekaan

Periode 25 tahun kedua atau 31 tahun setelah pastor-pastor OSC berkarya di Cimahi, paroki St. Ignatius mencatat berbagai peristiwa penting yang membawa dampak bagi kemajuan dan perkembangan umat katolik maupun peristiwa yang berdampak tidak menguntungkan. Peristiwa-peristiwa tersebut secara kronologis diuraikan di bawah ini.

Kedatangan Suster-Suster OP dan Tentara KNIL di Cimahi

Menindaklanjuti perlunya sarana pendidikan dalam rangka pengembangan kedewasaan pikiran dan sikap mental umat, maka pastor Johanes de Rooij sebagai pastor paroki menulis surat kepada suster-suster Ordo Santo Dominikus atau Ordo Praedicatorum (OP) yang memiliki biara induk di Cilacap, untuk berkarya di Cimahi. Undangan tersebut mendapat sambutan yang positif, maka pada tanggal 2 Juli 1934 beberapa suster Dominikanes tiba di Cimahi. Mereka bermaksud membeli tanah di daerah Hotel Berglust (dikenal sekarang sebagai Berkles di Jln. Sukimun), tetapi batal dan akhirnya membeli tanah didaerah Baros sekarang dari seorang pemilik yang bernama Timmerman. Di atas lahan itulah dibangun rumah biara dan sebuah local Taman Kanak-Kanak (Frobel School) St. Theresia dan Sekolah Dasar (Largere School) St. Maria. Bangunan tersebut masih terbuat dari bilik bambu dan diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1934, sedangkan kompleks bangunan yang permanent baru dibangun pada tanggal 23 Mei 1935 di mana Uskup Bandung, Mgr.J.H.Goumans OSC meletakkan batu pertama pada pembangunan Sekolah Katolik dan Kapel Suster Dominikanes tersebut. Setelah pembangunan selesai, kompleks sekolah dan kapel baru tersebut diberkati pada tanggal 12 Agustus 1935 oleh Mgr. J.H. Goumans OSC.

Pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh para suster Dominikanes, semakin hari semakin berkembang. Oleh karena itu untuk melayani pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Dasar, perlu ada ruangan kelas yang baru. Menyadari akan adanya kebutuhan tersebut, maka pada tanggal 1Agustus 1938 dibangun Sekolah Dasar yang lokasinya di lapangan biara susteran.

Kemajuan paroki sangat ditunjang oleh umat yang berpendidikan dan terampil dalam mengolah setiap persoalan hidup menggereja ditengah-tengah masyarakat. Untuk hal itu, maka generasi muda gereja harus dibekali dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Supaya generasi muda gereja memiliki keterampilan praktis dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi, paling tidak untuk kepentingannya, maka pada tanggal 15 Agustus 1940 didirikan dan diresmikan sebuah sekolah kejuruan.

Selain kedatangan suster-suster OP, pada tahun yang sama datang pula tentara KNIL dari Menado, Flores dan Jawa beserta keluarganya yang ditugaskan di Cimahi. Kedatangan mereka mengakibatkan jumlah umat katolik di paroki semakin bertambah karena banyak diantara mereka yang beragama katolik. Tugas pembinaan rohani anggota KNIL dilakukan oleh pastor Leenders OSC. sebagai pastor tentara yang datang ke Cimahi pada tahun 1937 menggantikan pastor Antonius Kooyman OSC.

Pendudukan Balatentara Jepang

Invasi balatentara Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, mengakibatkan wilayah Indonesia dikuasai oleh pemerintah Jepang. Pada bulan Maret 1942 tentara Jepang masuk dan menguasai kota Bandung dan juga kota Cimahi. Pendudukan Jepang mendatangkan kesulitan bagi gereja karena para pastor dan suster banyak yang ditawan dan dipenjarakan, gereja dijadikan sebagai gudang logistik, kegiatan peribadatan umat dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena dilarang, termasuk membunyikan lonceng �Angelus�di gereja setiap pukul 12.00. Larangan itu terjadi karena gereja tetap membunyikan lonceng Angelus setiap pukul 13.30, padahal sejak tanggal 23 Maret 1942, Waktu Jawa dihapus dan diganti oleh Waktu Nippon yang selisihnya maju 1,5 jam, maka pihak Jepang menyadari bahwa gereja masih tetap menggunakan waktu Jawa.

Gedung gereja dan pastoran dijadikan markas dan gudang logistik bagi tentara Jepang. Pastor Bart Leenders dan Pastor Scheerder ditawan dan dipenjarakan. Setelah beberapa kali pindah kamp tawanan, akhirnya mereka ditawan di Kamp IV (sekarang Pusdikhub, sebelah utara Kantor Pos Cimahi). Dengan ditawannya para pastor, maka pelayanan umat diseluruh Vikariat Bandung dilakukan oleh pastor H. Reichert, satu-satunya pastor asing yang tidak ditawan dan dipenjarakan. Ini adalah suatu tugas dan tanggung jawab yang hampir berada di luar bataskemampuan manusia untuk mempertahankan Gereja Katolik. Pada tanggal 5 April 1943, salah seorang pastor yang ditawan di Cimahi yaitu pastor A. van Dijk meninggal dunia.

Pada masa sulit tersebut, seorang katekis awam yang bernama Pedro Mawi Amang yang berasal dari Flores, sempat mengurusi dan memberikan pelayanan rohani pada umat, sampai akhirnya ketika sedang memimpin perayaan ibadat, tentara Jepang menangkapnya dan kemudian membunuhnya. Ia menjadi semacam martir bagi umat paroki Cimahi. Beberapa suster pribumi yang tidak ditawan yaitu Sr. Clara dan Pst. Padmawidjaja MSC. dari Vikariat Purwokerto sempat memberikan pelayanan pada umat, bahkan mempermandikan beberapa umat di Cimahi.

Penataan Paroki Setelah Kemerdekaan

Pada tahun 1945, setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, para pastor dan suster yang ditawan dan dipenjarakan oleh Jepang, dibebaskan. Pastor Bart Leender, setelah dibebaskan kembali ke Cimahi, ia dihadapkan pada kondisi gedung gereja dan pastoran yang porak poranda serta umat yang tercerai berai. Ia berusaha membenahi dan memperbaiki kerusakan, tetapi karena situasi kota Cimahi yang tidak aman, maka ia memutuskan kembali ke kamp tawanan untuk mengamankan diri dan menunggu sampai situasi aman.

Sekitar bulan Juli 1946, keadaan kota Cimahi mulai aman, maka pastor Bart Leender dengan bantuan militer Belanda, memperbaiki gereja dan pastoran tetapi sekolah belum dapat dibuka kembali, karena Suster-suster Dominikanes belum kembali ke Cimahi. Baru pada tanggal 1 September 1947 suster-suster Dominikanes mulai membuka Sekolah Dasar St. Yusuf (satu kompleks bangunan dengan SD Santa Maria) dan pada tanggal 1 November 1947 sekolah kejuruan mulai dibuka kembali.

Pada tahun 1947 pastor Jan Dohne OSC (umat asli Cimahi yang menjadi pastor pertama) menggantikan pastor Anton Kooyman OSC dan pastor Reiner Kloeg OSC yang adalah pastor tentara. Kesulitan yang dialami para pastor baru ini adalah penggunaan bahasa Indonesia/Melayu saat memberi homili. Penggunaan tata bahasa yang tidak teratur, pemakaian kata yang tidak tepat, sering mengakibatkan timbulnya salah pengertian dalam berkomunikasi. Tetapi meskipun demikian, umat dapat menerima kekurangan tersebut.

Upaya penataan kembali kehidupan menggereja di paroki Cimahi berlangsung sampai dengan tahun 1950-an. Walaupun upaya ini dirasa berjalan lambat, tetapi sedikit demi sedikit berbagai persoalan yang dihadapi seperti tersebut di atas, dapat diselesaikan berkat bantuan dari semua pihak yang sangat peduli terhadap perkembangan kehidupan menggereja di kota Cimahi yang lebih baik.

Pemulangan Tentara Belanda (KL) Ke Negeri Belanda

Sebagai kota militer, Cimahi menjadi sangat peka terhadap perubahan situasi politik yang terjadi baik di pusat maupun di daerah. Hal itu dapat dilihat selama kurun waktu 1950-1960 yang ditandai dengan terjadinya berbagai peristiwa seperti pemberontakan DI/TII dibawah pimpinan Kartosuwiryo, perkembangan partai komunis yang semakin kuat dan konflik Irian Barat antar pemerintah Indonesia dan Belanda. Peristiwa-peristiwa tersebut membawa dampak terhadap kehidupan menggereja di paroki Cimahi.

Terjadinya konflik antara pemerintah Indonesia dan Belanda karena Belanda belum mau mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang sudah merdeka, mengakibatkan terjadinya pemulangan Tentara Belanda sehingga jumlah umat paroki Cimahi menjadi berkurang Pada tahun 1950an, umat paroki berkurang sangat mencolok dari jumlah 2400 umat berkurang menjadi tinggal 600 orang.

Namun sebaliknya, kedatangan TNI dan keluarganya ke Cimahi kemudian, membawa pengaruh yang cukup besar pada perkembangan umat di paroki Cimahi, karena diantara keluarga tersebut ada yang beragama katolik dan mereka mulai aktif terlibat dalam kehidupan menggereja.

Penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan oleh suster-suster Dominikanes sebagai salah satu bentuk pelayanan di bidang pendidikan terhadap umat di paroki Cimahi, terlebih setelah dibukanya SMP St. Mikael pada tanggal 1 Agustus 1950, membawa implikasi bagi terbentuknya Persatuan Guru Katolik di Cimahi.

Demikianlah sekilas perjalanan sejarah Gereja Katolik Santo Ignasius meretas masa-masa awal yang penuh gejolak yang tidak sedikit menuntut dan menyita pengorbanan yang luar biasa dari para pelakunya. Namun hal ini menjadi batu karang yang kokoh bagi landasan bangunan hidup menggereja umat dan para gembalanya.

Tidak sepesat perubahan bangunan dan prasarananya, perkembangan kehidupan menggereja umat lebih mewarnai perkembangan Gereja Katolik utama dan pertama di Kota Cimahi yang pemerintahannya tahun ini genap berusia 6 tahun. Berbagai organisasi, baik yang menjadi bagian internal gereja, maupun organisasi atau kelompok yang berafiliasi dengan gereja, semakin hari semakin mewujud dan senantiasa bergerak menjalankan misinya masing-masing yang pada akhirnya bermuara pada pelayanan sesama untuk semakin memuliakan Allah. Saat ini umat katolik Cimahi berjumlah lebih dari 2750 keluarga dengan jumlah umat sekitar 8000 jiwa.

Adapun daerah cakupan pelayanan Paroki Santo Ignasius Cimahi adalah:
* Sebelah Utara: berbatasan dengan Lembang Bandung (Kel. Cisarua)
* Sebelah Timur: berbatasan dengan Paroki Waringin dan Paroki Pandu (Ciwaruga)
* Sebelah Selatan: Sungai Citarum (Nanjung)
* Sebelah Barat: berbatasan dengan Paroki Cianjur (Rajamandala) dan Paroki Purwakarta (Plered)

Dalam cakupan wilayah yang luas tersebut, keragaman etnis memperkaya kehidupan hidup menggereja di Paroki Cimahi ini. Dari jumlah 2750 keluarga, di antaranya berasal dari berbagai etnis, seperti Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Manado, Ambon, Flores, Timor, Papua dan Tionghoa.

Seluruh umat dalam paroki ini dilayani oleh empat orang pastor. Sebagai Pastor Kepala adalah Pastor Aloysius Supandoyo OSC., yang dibantu oleh Pastor Ignasius Putranto OSC.

Sumber : http://ignatiuscimahi.blogspot.com/
Gambar : http://ignatiuscimahi.blogspot.com/
http://baitallah.wordpress.com/

Thursday, February 16, 2012

Jejak Gereja Katedral St. Petrus Bandung

Apabila kita melewati Jalan Merdeka ke arah Jalan Lembong,kita akan menyaksikan sebuah gedung berasiterktur gothic dengan menara tinggi di sisi kirinya,di apit oleh Kantor POLRESTABES Bandung yang dahulu merupakan sekolah para calon guru pada masa kolonial Belanda dan Gedung Hotel Grand Panghegar terdapat Gereja Katedral Santo Petrus yang di dirikan pada tahun 1922 sebagai pengganti Gereja Santo Fransiscus Regis yang sudah tidak dapat menampung umat yang semakin bertambah di Kota Bandung gedung gereja tersebut sekarang di gunakan sebagai salah satu bagian dari Kantor Bank Indonesia.

Gereja Katedral St. Petrus, Bandung menyimpan banyak cerita menarik yang layak diungkapkan, terutama bagi umat Katolik yang belum sempat mengenalnya lebih jauh. Lebih dari sekedar bangunan yang memiliki arsitektur yang khas, Katedral ini ternyata menjadi saksi bisu tentang perjalanan panjang perkembangan umat Katolik di (Keuskupan) Bandung.

Sejarah Perkembangan Katedral Bandung

Cerita ini dimulai sekitar tahun 1878, di mana saat itu Bandung sebagai ibukota karesidenan Priangan sudah cukup ramai, namun belum memiliki pelayanan umat Katolik sendiri. Untuk melayani umat, pastor didatangkan dari stasi terdekat, yaitu Cirebon yang berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia. Ketika jalur kereta api Batavia � Bandung dibuka pada tahun 1884 dan transportasi menjadi lebih mudah, pelayanan umat secara tetap di Bandung segera dipersiapkan. Maka, dibangunlah gereja pertama yang berukuran hanya 8 x 21 meter persegi dilengkapi sebuah pastoran di Schoolweg (kini Jalan Merdeka), berdekatan dengan gudang kopi milik Pemerintah Kolonial Belanda. Gereja ini diberi nama St. Franciscus Regis dan diberkati oleh Mgr. W. Staal pada tanggal 16 Juni 1895.

Pada tanggal 1 April 1906, Bandung memperoleh status Gemeente (setingkat kotamadya), sehingga berhak menyelenggarakan pengelolaan kota sendiri. Sejak saat itu, Kota Bandung mulai berbenah, antara lain dengan melaksanakan pengembangan permukiman kota untuk warga Belanda dan pembangunan kawasan pusat pemerintahan kotamadya (civic centre) berupa Gedung Balaikota berikut sebuah taman (kemudian disebut Pieterspark) tepat di lokasi bekas gudang kopi. Melengkapi civic centre ini, kelak dibangun berbagai bangunan publik di sekitar balaikota seperti sekolah, bank, kantor polisi, dan gereja, baik untuk umat Katolik maupun Protestan.

Pada tanggal 13 Februari 1907, pemerintah mengeluarkan keputusan untuk memisahkan Priangan, termasuk Kota Bandung, secara administratif dari Distrik Cirebon. Kota Bandung ditentukan sebagai sebuah stasi baru di Jawa Barat yang dipimpin Pastor J. Timmers dari Cirebon yang sudah 4 tahun menetap di Bandung.

Dalam penyelenggaraan gereja selama 4 tahun berikutnya ternyata jumlah jemaat semakin bertambah hingga mencapai 280 orang pada Perayaan Ekaristi. Saat itu, jumlah umat Katolik di Bandung sendiri telah mencapai 1800 orang. Maka Gereja St. Franciscus Regis pun diperluas karena tidak cukup lagi menampung jemaat yang semakin banyak. Setelah melalui beberapa alternatif dipilihlah sebuah lahan bekas peternakan di sebelah Timur Gereja St. Franciscus Regis, di Merpikaweg (kini jalan Merdeka), sebagai lokasi gereja baru. Perancangnya pun telah terpilih, yaitu Ir. C.P. Wolff Schoemaker, seorang arsitek berkebangsaan Belanda.

Pembangunan gedung gereja yang baru dilaksanakan sepanjang tahun 1921. Setelah selesai, geraja yang baru itu diberkati oleh Mgr. Luypen pada tanggal 19 Februari 1922, dan dipersembahkan kepada Santo Petrus, yang merupakan nama permandian dariPastor P.J.W. Muller, SJ. Pada hari itu juga, Mgr. Luypen meresmikan dan memberkati Pastoran Santo Petrus, yang saat itu termasuk Vikariat Batavia.

Dari Stasi Menjadi Keuskupan
Empat tahun setelah Gereja St. Petrus didirikan, sebagian dari Vikariat Batavia, termasuk Bandung, dialihkan kepada Ordo Salib Suci. Tiga orang imam Salib Suci yang pertama adalah Prior J.H. Goumans, OSC sebagai misionaris superior (pemimpin misi) di Bandung, M. Nillesen, OSC, dan J. de Rooy, OSC.

Pelayanan di Bandung dikembangkan melalui sekolah, balai kesehatan, rumah sakit, dan rumah yatim piatu. Semakin hari pelayanan di Bandung dan sekitarnya semakin maju dan berkembang, maka pada tahun 1932 karya misi di Bandung dijadikan sebuah Prefektur Apostolik, yang kemudian ditingkatkan lagi menjadi Vikariat Apostolik pada tanggal 11 Februari 1942.

Kabar gembira ini datang di tengah-tengah situasi pecahnya Perang Dunia II yang juga melibatkan daerah kolonial Hindia Belanda. Kegairahan menyambut acara konsekrasi uskup berlangsung dalam bayang-bayang kekhawatiran peperangan, sehingga Mgr. J.H. Goumans dianjurkan berangkat ke Yogyakarta untuk menerima pentahbisan di sana, namun kemudian diperoleh kabar bahwa pentahbisan di Yogyakarta pun tidak dapat dilakukan, apalagi dengan pendudukan Jepang atas Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942.

Di tengah hambatan tersebut, Mgr J.H. Goumans mengabarkan kepada Mgr P. Willekens dan Mgr. A. Soegijapranata agar konsekrasi uskup dapat diadakan di Gereja St. Petrus Bandung pada tanggal 22 April 1942. Rencana ini segera beredar dari mulut ke mulut dan kemudian, walaupun tidak dilakukan dengan perayaan besar dan dokumentasi foto, acara ini tidak mengalami hambatan yang berarti.

Gereja sempat mengalami masa-masa sulit ketika sebagian besar misionaris yang berkebangsaan Belanda harus masuk kamp tawanan Jepang. Mereka dapat kembali bertugas setelah Jepang kalah perang dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
Pada suatu hari di tahun 1950, ketika sedang mengajar, Mgr. J.H. Goumans, OSC mendapat serangan jantung dan harus masuk Rumah Sakit St. Borromeus. Karena kesehatannya tidak bertambah baik beliau harus meninggalkan Indonesia. Satu tahun kemudian beliau mohon berhenti sebagai Vikaris Apostolik Bandung, yang dikabulkan oleh Paus Pius XI. Maka, Tahta Suci Roma mengangkat Mgr. P.M. Arntz, OSC Superior yang baru, sebagai Vikaris Apostolik yang menggantikan beliau.

Tanggal 3 Januari 1961 adalah tonggak sejarah baru bagi Gereja Katolik Indonesia, di mana saat itu Vikariat Apostolik Bandung ditingkatkan menjadi Diosis atau Keuskupan. Sejak saat itu, Mgr. P.M. Arntz sungguh-sungguh menjadi Uskup Bandung, tidak lagi ditempeli nama keuskupan lain. Dalam pengangkatannya, sekaligus disebutkan pula katedralnya, yaitu Gereja St. Petrus, Bandung.

Kata �katedral� berasal dari kata �cathedra� (Bahasa Latin: tahta untuk menyebut tahta uskup). Cathedra adalah lambang kewenangan seorang uskup atas diosisnya. Tahta ini diletakkan di suatu gereja yang terpilih sebagai gereja utama dalam suatu diosis, yang kemudian disebut gereja katedral atau katedral saja. Saat ini, Tahta Uskup Bandung diletakkan di dalam panti imam, bersandar di dinding Utara, Gereja Katedral St. Petrus, Bandung.
Pustaka:Buku Kengangan 80 Tahun Gereja Katedral Bandung dan Ziarah Arsitektural Katedral St. Petrus Bandung.

Sebagai Tempat Wisata Arsitektur dan Sejarah

Seperti halnya bangunan tua lainnya di Bandung Gereja Katedal pun merupakan bagian dari cagar budaya yang di lindungi karena nilai sejarah yang tersimpan.
Melihat di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam bahwa tempat � tempat ibadah tua dan unik di gunakan sebagai tempat pariwisata yang di layak di kunjungi tanpa menggangu fungsi utamanya sebagai tempat ibadah, sebenarnya Gereja Katedral pun bisa di gunakan seperti demikian tercatat selain Katedral Santo Petrus masih terdapat beberapa tempat Ibadah lainnya yang memiliki potensi wisata religi, budaya, sejarah dan arsiktetura diantaranya Gereja GPIB Bethel, Gereja GKI Taman Cibunut, Gereja GPIB Maranatha, Mesjid Cipaganti dan Vihara Vipassana Graha.

Memasuki ruangan dalam Gereja Katedral dari pintu sayap kanan kita akan di sambut oleh suasana yang sangat hening sampai setiap suara langkah kaki kita bergema ke seluruh ruang gereja.

Hal pertama yang akan kita lihat adalah dereta kursi panjang tempat duduk umat lengkap dengan tempat berlutut,kursi-kursi berbahan kayu jati tersebut sudah ada dari sekitar tahun 1922 ketika masa awal gereja itu di gunakan.

Hal lain yang akan kita lihat adalah Altar dan Tabernakel tempat penyimpanan hosti yang sudah di konsekrasi,salah satu keunikan dari tabernakel yang ada di Katedral Santo Petrus adalah bentuknya seperti replika Basilika Santo Petrus di Vatikan,yang di apit oleh dua patung malaikat berwarna putih menyangga tempat lilin yang hanya di nyalakan pada saat-saat misa khusus seperti misa pontifical bersama Bapak Uskup,misa pekan paskah,misa natal dan misa khusus lainnya.

Di atas tabernakel terdapat mozaik yang menggambarkan peristiwa wafatnya Yesus di kayu salib,Yesus di persembahkan di kenisah dan Yesusu duduk di tahtaNya. Selain di atas tabernakel, di pintu sayap kanan dan kiri pun terdapat mozaik berbentuk bulat yang menggambarkan buku merpati sebagai lambang dari Roh Kudus dan tulisan IHS �Iesus Hominum Salvator� yang berarti Yesus Penyelamat Manusia. Di dinding atas terdapat tulisan besar berisi ayat kitab suci. �Marilah kepadaKu, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu� yang di ambil dari Matius 11 : 28.

Bagian depan dari bangunan gereja ini di samping pintu masuk utama terdapat beberapa patung orang kudus dalam tradisi Gereja Katolik seperti Santo Petrus,Santo Yusuf,Santo Antonius Padua dan Santo Igantius Loyola.

Di samping kanan terdapat satu ruangan khusus untuk berdoa dan replika dari patung �Pieta� yang berarti duka cita karya Michael Angelo yang aslinya di simpang di Vatikan.

Di sudut kiri terdapat bejana baptis bayi kuno yang terbuat dari marmer putih sekarang bejana baptis tersebut sudah tidak di gunakan lagi,keunikan lainnya di gereja ini masih tersipan Orgel Pipa Lavabre yang masih berfungsi sampai sekarang.

Bagaimana anda tertarik untuk berkunjung?
Gereja Katedral terbuka untuk umum setiap senin sampai sabtu dari Pukul 05.30 � 08.00 menjelang dan setelah misa pagi dan pukul 16.00-20.00 di sore hari.
Untuk hari Minggu gereja di gunakan untuk misa minggu sehingga tidak di buka untuk kunjungan wisata.

Peraturan baru bahwa apabila kita akan berkunjung secara rombongan kita di wajibkan untuk meminta izin dari Pastor Kepala Paroki terlebih dahulu yaitu Pst.Leo Van Beurden OSC melalui sekretariat Paroki.

Sumber : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/10/12/jalan-jalan-heritage-di-gereja-katedral-bandung/
http://www.katedralbandung.org/profil/gereja

Friday, January 6, 2012

Sekilas Sejarah Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya

AWAL MULA GEREJA KATOLIK TASIKMALAYA

Awal mula kehadiran Gereja Katolik di Tasikmalaya tidak terlepas dari orang-orang Belanda yang memiliki perkebunan karet yang tersebar di wilayah Tasikmalaya dan Ciamis. Para pemilik dan keluarga serta handai taulannya banyak yang beragama Katolik. Mereka sangat membutuhkan pelayanan, terutama pelayanan Ekaristi. Selain orang-orang Belanda, di Tasikmalaya banyak juga tentara KNIL yang beragama Katolik, yang membutuhkan pelayanan bimbingan rohani.

Adanya kebutuhan tersebut mendorong hierarki mengutus pastor bekerja di Tasikmalaya, Ciamis dan wilayah sekitarnya. Pastor datang ke Tasikmalaya silih berganti. Belum ada pastor yang menetap. Dengan adanya pelayanan rohani dan Perayaan Ekaristi, maka satu dua ada keluarga Tionghoa yang bergabung sebagai simpatisan.

Ketika Pelayanan Gereja diserahkan dari Serikat Yesuit (SJ) ke Ordo Salib Suci (OSC) wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya menjadi �stasi� dari Paroki Garut. Inilah langkah awal mulai berdirinya paroki Tasikmalaya.

Pada tanggal 28 Mei 1947 seorang anak bernama Tan Tjing It dari keluarga Tan Joen Liong dibaptis dan dicatat tersendiri dalam buku baptis Tasikmalaya meskipun dicatat pula di Garut. Baru pada tahun 1955 buku baptis benar-benar sudah terpisah dari Garut. Sayang arsip dari tahun 1947 sampai dengan 1996 yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi itu ikut terbakar dalam peristiwa �Tasikmalaya Kelabu� pada 26 Desember 1996. Dalam perkembangannya, perayaan ekaristi dari waktu ke waktu selalu berpindah-pindah. Itulah sekilas awal mula Gereja Katolik di Tasikmalaya.

Menelusuri jejak langkah Gereja di Tasikmalaya bak menyusun batu-batu sendi menjadi sebuah bangunan. Apalagi hampir semua arsip baik foto-foto, dokumen permandian musnah terbakar. Pengalaman kehidupan menggereja yang kami dituangkan dalam Sejarah Gereja Paroki �Hati Kudus Yesus� Tasikmalaya terbagi dalam tonggak-tonggak:
1. Gereja Masa Revolusi (1930 � 1947)
2. Gereja Masa Mengembara (1947 � 1955)
3. Gereja Menetap (1955 � 1965)
4. Gereja Berkembang (1965 � 1994)
5. Renovasi: Perjuangan Seluruh Umat (1994 � 1996)
6. Peristiwa Tasikmalaya Kelabu (1996)
7. Membangun Kembali (1996-1997)
8. Gereja Memasyarakat (1997 � 2007)
9. Melampai Tahun 2000

BAGIAN I : GEREJA MASA REVOLUSI (1930 � 1947)

Pada tanggal 19 Oktober 1930 perkawinan antara Henri August Leonard dengan Catherine Jacqueline tercatat dalam buku perkawinan Pastor yang memberikan Sakramen Perwakinan adalah Pastor Ant. Van Asseldonk OSC. Pada tanggal 16 Februari 1931 Tasikmalaya memiliki sebuah gedung gereja sendiri. Meskipun telah memiliki gedung gereja Tasikmalaya merupakan stasi dari paroki Garut.

Pada tahun 1937 Mathias Tan Joen Liong yang dipermandikan di Bandung datang ke Tasikmalaya bekerja sebagai pegawai kebun karet Onderneming ADAWARNA di daerah Sukaraja-Cibalong. Bersama dengan pegawai kebun karet yang lain dan para tentara KNIL serta beberapa orang Tionghoa yang tertarik dengan agama Katolik mereka sering berkumpul mengadakan perayaan ekaristi. Para pastor Belanda dari Bandung yang memimpin perayaan ekaristi. Meski tidak rutin mulai tahun ini perayaan ekaristi sering diadakan secara berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

BAGIAN II : GEREJA MENGEMBARA (1947 � 1955)

Setelah situasi agak normal, perayaan ekaristi baru diadakan lagi mulai tahun 1947. Umat menggunakan rumah yang terletak di Jalan Seladarma No. 10 untuk beribadah dan beraktifitas. Selain di rumah tersebut, kehidupan menjemaat juga menggunakan gedung milik Brigif TNI-AD yang terletak di Jalan Yudanegara (sekarang pertokoan). Pada sekitar tahun 1947 pastor yang berkarya adalah Pastor Sumodiwirjo OSC seorang pastor yang bertugas mendampingi para tentara menggantikan Pastor C. Mooij OSC. Karena pastor Sumo adalah pastor tentara (Almoezenier) maka tidak heran bila kerap kali misa diadakan di kantin tentara.

Pada masa pengembaraan ini, sebuah sejarah penting yang perlu juga dicatat yakni peran TNI AD dalam perkembangan gereja Katolik Tasikmalaya. Anggota TNI AD saat itu membantu para pastor dalam pelayanan kepada umat. Bapak Budi Rahardjo dan Bapak Antonius Djawal, anggota TNI AD bagian pembinaan Rohani Katolik (Roh-Kat) ikut membantu pelayanan pastor dalam karya pewartaan.

Karena merekalah perayaan ekaristi hampir selalu diadakan di tempat milik TNI AD. Pada dekade ini sebagian besar umat Katolik adalah anggota TNI AD. Selain menempati markas Brigif, kegiatan berjemaat dilaksanakan di CPRAD yang terletak di Jalan Kalektoran (sekarang gedung BRI).

BAGIAN III : GEREJA MENETAP (1955 � 1965)

Setelah menjalani peziarahan perjalanan gereja yang cukup panjang dan melelahkan, berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain berkat bantuan Bapak Richardus Selawinata pada bulan Juli 1954 dibelilah sekolah �Minerva� milik bapak Tjong A Koei yang terletak di jalan Kebon Tiwu. Setahun kemudian gedung lama dibongkar dan dibangunlah secara bertahap gedung yang baru di bawah koordinasi pastor Dohne OSC dengan arsitek bapak Ho A Buy.

Seiring dengan berdirinya bangunan baru, pada tahun 1955 mulailah sekolah Yos Sudarso Tasikmalaya di bawah pengelolaan Yayasan Salib Suci. Kegiatan hidup menggereja mulai terpusat di tempat ini. Ruangan gedung sekolah sengaja tidak disekat mati, karena setiap hari Minggu ruangan-ruangan kelas tersebut digunakan untuk perayaan ekaristi dan kegiatan gereja.

Ketika itu perayaan ekaristi masih menggunakan bahasa Latin dan semua umat termasuk imamnya menghadap ke altar. Salah satu ruangan yang terletak di ujung bangunan digunakan untuk tempat tinggal pastor sekaligus sebagai sakristi.

Pada tanggal 26 Juli 1956 seluruh bangunan TK, SD, dan SMP Yos Sudarso selesai dibangun. Mgr. Arntz OSC, Uskup Bandung memberkati dan meresmikan pemakaiannya dengan dihadiri perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

BAGIAN IV : GEREJA BERKEMBANG (1965 � 1994)

Perkembangan umat yang di luar dugaan ini mendorong untuk memikirkan gedung gereja yang permanen dan representatif. Pastor Van de Pool OSC yang masih muda dan bersemangat mulai membangun gedung gereja dan pastoran di atas tanah di Jalan Manonjaya No. 50 Tasikmalaya yang telah dibeli sebelumnya.

Entah dananya dari mana, mulailah dibangun gedung gereja dan pastoran sederhana. Kapan persisnya gereja dan pastoran tersebut selesai dibangun, namun menurut catatan, pernikahan tanggal 5 Februari 1966 telah menggunakan gedung gereja baru tersebut. Gedung gereja tersebut (kini telah menjadi lapangan parki). Di belakang gereja terdapat aula kecil yang digunakan untuk pertemuan, pelajaran agama, ruang tamu pastoran, dan sekretariat.

Dengan demikian perayaan ekaristi tidak diadakan di sekolah Yos Sudarso. Semuanya pindah ke Jalan Manonjaya No. 50 Tasikmalaya (sekarang Jl. Sutisna Senjaya). Gereja tersebut bisa menampung kurang lebih 200-an umat.

Setelah berkarya kurang lebih dua tahun dan menuai begitu banyak panenan, beliau pindah tempat tugas pada bulan April 1966. Yang menggantikan adalah Pastor Gani OSC yang datang ke Tasikmalaya pada bulan Mei 1966. Pada bulan Agustus 1966 Pastor Hidayat OSC, seorang pastor tentara bergabung untuk berkarya di Tasikmalaya. Kedua gembala ini melayani umat yang tersebar diberbagai tempat di kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Pangandaran. Karya mereka bukan hanya dalam bidang katekese juga pemberdayaan ekonomi terutama masyarakat di pedesaan.

BAGIAN V : RENOVASI: PERJUANGAN SELURUH UMAT (1994 � 1996)

Perkembangan umat yang begitu pesat mendorong semua pihak baik pastor maupun umatnya untuk mulai memikirkan tempat sarana pembinaan yang lebih memadai secara serius. Seiring dengan keinginan itu pada pertengahan tahun 1993 keinginan umat memiliki gereja yang lebih luas dengan sarana lainnya tidak terbendung. Angan-angan memang besar, namun waktu itu dana serupiah pun belum punya. Maksud mulia itu disetujui oleh pastor Martin Sommers OSC.

Maka dibentuklah panitia pembangunan gereja. Sebagai pelindung pastor Martin Sommers OSC, penasehat adalah RH Selawinata, Y. Hidayat Yodi Saputra, Yan Setiono, pastor Y. Siswa Subrata Pr. Sedangkan panitia inti adalah dr. Lukmantara Tendi Ketua) dan F.H. Suhartono SH (Wakil Ketua). Panitia yang lain adalah A. Sugito dan C. Sugirman (Sekretaris), L. Benny Hamdani dan F. Eddy Tunggino (Bendahara), Ir. Ign. Sukianto, Ir. Aat Sumadi, H. Gunawan, YB Djoni Hasan, A. Darmawan Tendi (pelaksana). Seksi usaha K. Hansen Tendi dan seksi humas B. Waluyo dan Ign. Sutono. Mereka itulah yang terlibat dari awal sampai akhir sesuai dengan talenta dan waktu serta tenaga yang tersedia.

Selama kurun waktu setengah tahun panitia mengumpulkan modal dan memohon bantuan dana dari Keuskupan Bandung dan Yayasan Salib Suci. Umat juga diajak untuk terlibat dari yang terkecil sampai dengan yang besar kemampuannya. Pengumpulan dana dari umat dilakukan dengan cara iuran per keluarga. Bentuk bangunan pun mulai dirancang dengan meminta bantuan Ir. Bun Yong seorang arsitek dari Bandung. Melalui perdebatan yang panjang dan melelahkan akhirnya model bangunan disetujui.

Pada tanggal 29 September 1994 pastor Martin meletakkan batu pertama gedung gereja di dalam tanah bekas pastoran yang dipakai awal tahun 1960-an pertanda dimulainya pembangunan gedung gereja. Karena dana yang dikumpulkan umat belum memadai, maka selama pembangunan berlangsung umat mengumpulkan dana lewat iuran yang dihimpun lewat para ketua lingkungan. Umat dengan setia sesuai kemampuan memberikan bantuan. Setiap kali pembangunan belum selesai dan masih membutuhkan dana umat diajak untuk berunding mengenai cara mencari dana.

Gereja baru yang dibangun di belakang gedung gereja lama tampak lebih luas. Karena menggunakan tanah sekolah Yos Sudarso yang sebelumnya dipakai untuk lapangan basket dan ruang laboratorium, maka gereja mengganti kedua fasilitas tersebut. Lapangan basket dibuatkan di samping aula dan ruang laboratorium di samping ruang legio Mariae.

Berbagai tantangan dan hambatan muncul silih berganti. Namun syukurlah semuanya bisa diatasi berkat suntikan dan pendampingan pastor Siswa Subrata Pr. Gedung gereja selesai dibangun dan telah mulai dipakai sejak Minggu pertama masa Advent tahun 1995. Waktu pelaksanaan termasuk seluruh gedung penunjang berlangsung 672 hari atau tepatnya 96 minggu, mulai tanggal 29 September 1994 sampai dengan 31 Juli 1996.

Sepintas semuanya berjalan cepat dan lancar, namun sesungguhnya setiap hal membutuhkan diskusi dan perjuangan tersendiri. Prasasti gedung gereja ditandatangani oleh bupati Tasikmalaya Suljana W. Kusumah dan diresmikan penggunaannya serta diberkati oleh bapak Uskup Alexander Djajasiswaja Pr. pada tanggal 7 Agustus 1996.

BAGIAN VI : PERISTIWA TASIK KELABU (1996)

Kamis, 26 Desember 1996, sehari sesudah Hari Raya Natal adalah Hari Raya Santo Stefanus, Martir Pertama. Kota Tasikmalaya mencatat sejarah penting yang tidak pernah dilupakan terutama oleh masyarakat yang menyaksikan maupun mengalaminya. Pada hari itu, 77 hari setelah kerusuhan di Situbondo, terjadilah kerusuhan yang mengejutkan. Peristiwa itu memakan korban jiwa dan kerusakan harta benda. Gereja-gereja dan pertokoan termasuk rumah-rumah yang dimiliki oleh orang Tionghoa dirusak dan dibakar termasuk terbakarnya gedung gereja Paroki Hati Kudus Yesus yang baru diresmikan oleh Bapa Uskup Alexander Djajasiswaja Pr pada tanggal 7 Agustus 2006. Prasasti yang menandai diresmikannya gereja tersebut ditanda tangani oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Tasikmalaya Suljana W. Kusumah.

Dalam peristiwa yang mengejutkan itu, gedung gereja Paroki Hati Kudus Yesus, Jl. Sutisna Senjaya 50, Tasikmalaya mengalami empat gelombang aksi perusakan. Sebagai sebuah catatan sejarah penting kiranya perlu ditulis kronologis perusakan gedung gereja dan sarana penunjang lainnya sebagaimana dituturkan oleh Pastor Kepala Paroki, Rama Y. Siswa Subrata Pr dan beberapa umat yang menyaksikannya.

BAGIAN VII : MEMBANGUN KEMBALI DI ATAS PUING-PUING RERUNTUHAN (1996-1997)

Peristiwa Kerusuhan Tasikmalaya, dan peristiwa serupa yang terjadi di mana-mana pada dekade tahun 1996 � 1997 kiranya menimbulkan keprihatinan umat katolik yang sangat mendalam. Kerusuhan yang terjadi di Tasikmalaya merusak sejumlah sarana umum, kantor instansi, toko, pabrik, gedung gereja dan tempat ibadah lain serta bangunan-bangunan lain. Akibat dari peristiwa tersebut, banyak orang yang terlantar dan menderita karena kehilangan lapangan pekerjaan dan sumber penghidupan.

Peristiwa Kerusuhan Tasikmalaya yang meluluhlantahkan bangunan gereja dan sarana penunjang lainnya menyimpan sebuah tanda tanya: mengapa gereja yang harus dirusak? Keprihatinan ini menjadi semakin menghentak masyarakat lantaran disusul dengan krisis moneter yang menimpa bangsa Indonesia. Harga bahan makanan pokok yang melambung tinggi, jumlah pengangguran yang melonjak, masyarakat yang dihantui rasa takut membuat semakin lengkaplah penderitaan bangsa ini. Keprihatinan yang melanda seluruh negeri seolah ingin mengatakan bahwa bangsa ini sedang terpuruk. Jatuhnya rezim Orde Baru yang ditandai dengan mundurnya Soeharto dari kekuasaan pada tanggal 20 Mei 1998 membuat situasi semakin tidak menentu. Setelah kerusuhan di Tasikmalaya, menyusul pembakaran gereja di mana-mana yang dipicu oleh peristiwa sederhana. Pada masa ini umat katolik merasa tersudutkan dan kurang aman. Apalagi ditambah dengan kenyataan hidup yang semakin terasa menghimpit karena krisis moneter.

Di tengah-tengah situasi yang rawan, umat Tasikmalaya bangkit membangun kembali gedung gereja yang telah luluh lantak. Dalam suasana yang masih tidak menentu, reruntuhan dibersihkan dengan dibantu oleh warga masyarakat sekitar. Pastor Siswa Subrata Pr. membentuk sebuah tim yang bertugas merenovasi bangunan yang telah hancur.

BAGIAN VII : GEREJA MEMASYARAKAT (1998 � 1999)

Satu tahun setelah kerusuhan masih muncul bermacam rumor di masyarakat.. Gerakan-gerakan meskipun kecil menimbulkan kekhawatiran di kalangan umat. Banyak umat yang memiliki toko masih enggan membuka kembali usahanya. Setiap kejadian yang melibatkan masyarakat Tasikmalaya didiskusikan bersama. Pastor Siswa Subrata Pr. sebagai pastor paroki berperanan sekali dalam mengamati setiap kejadian. Umat diajak untuk mendiskusikan setiap gerak kemudian mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

Menyikapi situasi negara yang sedang dilanda krisis moneter, maka gereja mengadakan berbagai macam kegiatan sosial. Dalam setiap rapat para pengurus Dewan Paroki maupun Pengurus Lingkungan selalu disinggung mengenai situasi terkini yang terjadi di Tasikmalaya. Setiap kejadian yang menarik perhatian masyarakat direfleksikan menjadi sebuah aksi. Maka muncullah berbagai macam gagasan kegiatan yang melibatkan masyarakat. Boleh dikatakan bahwa tahun 1998 � 1999 adalah tahun kegiatan sosial yang diwarnai dengan aksi sosial entah berupa pemberian Paket Murah atau Paket Hemat berupa beras, minyak goreng, gula, mie instant. Kegiatan lain yakni berupa operasi pasar ke pelosok-pelosok dengan menjual beras murah.

Kegiatan yang paling mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat adalah pasar murah bagi warga RW 05 Kebon Tiwu yang dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 1998. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat karena krisis ekonomi sedang melanda seluruh negeri dimana harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak. Seluruh umat terlibat dalam kegiatan ini sesuai dengan talentanya masing-masing. Pada kesempatan tersebut walikota Tasikmalaya hadir meski tidak diundang.

Pasar murah menjadi agenda kegiatan yang berkelanjutan bahkan rutin dilaksanakan. Pada bulan Maret 1998 berturut-turut pasar murah diadakan bagi warga di kecamatan Tawang, kemantren Tamansari, bagi para penderita cacat. Tidak jarang pula kegiatan sosial seperti ini bekerjasama dengan PMII dan IPNU. Pada bulan yang sama dierikan paket berupa beras, mie instant, ikan asin bagi masyarakat Gunung Tanjung dan kemantren Tamansari.

Bulan berikutnya paket murah juga diberikan bagi orang-orang yang cacat di kompleks lembaga sosial. Pada hari Minggu, 17 Mei 1998 paket hemat diberikan untuk para penyandang cacat di lapangan basket.

Pada tanggal 26 Mei 1998 bekerjasama dengan IPNU dan mahasiswa Cipasung (IAIC) yang sedang mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengadakan operasi pasar ke: Warungponteng sebanyak 5 ton beras; Sukaratu 1 ton beras; Cipicung, Taraju 1 ton beras; Sukanagara 1 ton.

Pada bulan Agustus 1998 paroki melaksanakan program rakyat sehat. Berbagai macam aksi sosial dilaksanakan. Kegiatan yang paling menonjol yakni program bayi sehat. Seksi sosial dan PMII bekerjasama membagikan susu bagi balita hampir di setiap kelurahan.

Komunikasi dengan saudara-saudara muslim ditingkatkan. Kunjungan kepada para kyai dan ajengan dilaksanakan. Silaturahmi dengan para pemuka agama diintensifkan bersama dengan para pengurus lingkungan di tingkat masyarakat bawah.

Jalinan persaudaraan itu membuahkan hasil yakni terbentuknya sebuah forum yakni Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB) yang dideklarasikan pada tanggal 20 Mei 1998 oleh beberapa tokoh dari kalangan umat beragama. Saat terbentuk forum ini mempunyai tujuan agar bisa digunakan sebagai tempat merumuskan konsep-konsep persaudaraan antarumat beragama. Dialog keagamaan pun berlanjut dalam karya bagi masyarakat.

Sumber : http://parokitasikmalaya.wordpress.com/2010/09/13/sekilas-sejarah-paroki-tasikmalaya/#more-369

Monday, January 2, 2012

Sejarah Paroki St. Laurentius

Cikal bakal Paroki St.Laurentius dimulai tahun 1950-an oleh sekitar 10 keluarga Katolik yang tinggal di Bandung Utara yaitu di daerah jalan karang Setra, Jurang, Cipaganti, Hegarmanah, Ciumbuleuit, dan Sukajadi bawah. Keluarga-keluarga tersebut mendapatkan pembinaan dan pelayanan iman dari Paroki St.Petrus Katedral, secara teratur di Jl.Karang Tingggal 13, rumah keluarga de Vink.Ketika rumah tersebut diambil-alih oleh Negara (1957) tempat perayaan Ekaristi terpaksa dipindahkan ke SD GIKI di Jl.Karangsari 23 , atas seijin Kepala Sekolahnya yaitu Ibu Tiwon. Pada periode inilah lahirnya stasi Karangsari yang merupakan stasi dari Paroki St.Petrus Katedral.

Untuk mewadahi kegiatan umat, Pak Soehardjo, pimpinan CV. Sabang Merauke, mengijinkan rumah dinasnya di Jl.Setiabudi 17 (sekarang Nomor 31) digunakan sebagai Sekretariat stasi. Pastor Sjaak Lammers OSC kembali ke Belanda tahun 1959 dan karyanya di stasi karangsari dilanjutkan antara lain oleh Pator Koster OSC dan Pastor Van Hareen OSC.

Berkembangnya daerah Bandung Utara dan jumlah umat di stasi Karangsari mendapat perhatian dari Uskup saat itu yaitu Mgr.Arntz OSC, Beliaulah bersama Pastor Hidayat OSC yang pertama kali menggagas dibangunnya gedung gereja di stasi Karangsari sampai uskup berkenan menyediakan tanah di Jl.Sukajadi atas (sekarang Jl.Sukajadi 223).

Proses pembebasan lahan yang dibantu antara lain olehBapak Soehardjo, Bapak Tedjo Hartono, Bapak Soelarto, Bapak Wirawan, Bapak Angkadirdja dan bapak Pranoto berhasil. Kemudian di awal tahun 1967 Bapak Angkadirdja yang adalah seorang sipil AURI, mendesain bangunan gereja perdana yang bentuknya mirip �gudang� dengan kapasitas sekitar 100 orang.

Peletakan batu pertama dilakukan Pastor Laurentius K. Soemodiwirjo OSC pada tahun 1967. Tahun berikutnya, untuk pertama kalinya umat stasi Karang sari memiliki gedung gereja sehingga mulai saat itu perayaan Ekaristi dipindahkan dari SD GIKI ke gereja kecil ini.

Berkembangnya stasi Karangsari tak lepas dari peranan beberapa pastor selain Pastor Laurentius K. Soemodiwirjo OSC yaitu Pastor Van Hareen OSC, Pastor Bernard dan Pastor JAC Schellekens OSC. Sedangkan aktivis awamnya antara lain Bapak Teddy Zulkarnaen, Bapak Wirawan, Bapak Andreas, Bapak Wiriodjojo dan Bapak Soekarto.

PAROKI St. LAURENTIUS
Pada Tahun 1979 jumlah umat di stasi Karangsari telah mencapai 137kepala keluarga. Pastor JAC Schellekens OSC, yang melihat pesatnya perkembangan wilayah ini dengan optimis mengajukan permohonan kepada Uskup agar status stasi Karangsari ditingkatkan menjadi Paroki.

Tanggal 10 Agustus 1981 pada hari pesta Santo Laurentius, Mgr Petrus Arntz OSC, Uskup Bandung mengabulkan permohonan Pastor JAC Schellekens OSC dan meningkatkan status stasi Karang sari menjadi Paroki otonom dengan nama Paroki St.Laurentius. Nama tersebut memang diusulkan secara bulat oleh para aktivis umat untuk menghormati jasa Pastor Laurentius K Soemodiwirjo OSC yang menggagas dan merintis pembangunan gereja perdana di stasi Karangsari. Sejak itu 10 Agustus dirayakan sebagai hari ulang tahun Paroki St.Laurentius. Pastor Paroki pertama di Paroki St. Laurentius adalah Pastor JAC Schellekens OSC, yang sejak 1985 dibantu oleh Pastor Alfons Bogaartz OSC dan Pastor L Blessing OSC.

Batas wilayah Paroki St.Laurentius disepakati: sebelah utara pada batas Kota Bandung-Lembang; sebelah Timur Sungai Cikapundung dan Jl. Siliwangi; sebelah Selatan Jl.Lamping dan pompa bensin Jl.Sukajadi; sebelah Barat Jl.Cibogo, kompleks Sarijadi dan Jl.Gegerkalong Hilir.

Tahun 1982 dibangun gedung Pastoran dan gedung serbaguna yang juga dipakai mempersembahkan Misa sehingga kapasitas gereja bias ditingkatkan menjadi 200orang dan kemudian mulai diadakan 2 kali perayaan Ekaristi di hari Minggu. Karena kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih luas dirasa jadi lebih mendesak sehingga mulai dipikirkan rencana membangun gereja yang lebih besar. Berkat kuasa-Nya, dukungan doa seluruh umat serta jasa Bapak Ignatius Pranoto dan Bapak Ignatius Suhendra SH maka pada tanggal 29 Agustus 1983 surat IMB sudah resmi didapat.

Pada Tanggal 24 Maret 1985 peletakan batu pertama dilakukan oleh Bapak Uskup Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr. Pada tahap Pembangunan yang banyak terlibat adalah Bapak Eddy Yudhira selaku konsultan pelaksana dan Bapak Wiriodjojo yang menangani bagian logistik.

Akhirnya kegigihan umat paroki St.Laurentius menghasilkan sebuah gedung gereja baru yang modern. Tanggal 1 Maret 1987 dilaksanakan pemberkatan gereja oleh Uskup bandung Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr dan sebagai ketua Panitia adalah Bapak FX Budi Pranoto.

Gereja baru ini yang dilengkapi dengan gedung pastoran dan aula yang juga baru, saat itu diharapkan bisa memenuhi perkembangan umat sampai 25 tahun ke depan. Namun ternyata baru lewat 5 tahun umat yang ikut Misa sudah melebur sampai ke teras.

Pertengahan tahun 1987 Pastor JAC Schellekens OSC digantikan oleh Pastor Djoko Setyarmo OSC (Agustus 1987 � Mei 1990) yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum muda. Saat itu Mudika sangat kompak dengan wadah yang bernama ESL (Ecclesia Sanctae Laurenti). Putra altar juga sangat berkembang dengan nama Fillius Arae dan yang tak kalah penting adalah lahirnya PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik). Pastor Djoko digantikan oleh Pastor Anton Rotten OSC (Mei 1990 � 31 Desember 1991). Kemudian pada periode 1 Januari 1992 � 31 Agustus 1995 Paroki St. Laurentius dipimpin oleh Pastor Hardjosoebroto OSC.

Salah satu warisan beliau adalah gedung Grha Prakasita yang dibangun dengan terlebihdahulu merobohkan aula lama yang baru berusia 10 tahun. Pada tanggal 12 Agustus 1995 Grha Prakasita, yang artinya Rumah Sentosa, diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr. Pastor Hardjo OSC juga berjasa menumbuhkan beberapa kelompok pelayanan baru seperti Doa Taize, Bina Iman Remaja (BIR), SJB (SukaJadi Berita), dan KKMK (Keluarga Karyawan Muda Katolik).

Pastor FX. Hardjosoebroto OSC digantikan oleh Pastor JC. Abukasman OSC (1 September 1995 � 10 April 1999). Waktu Indonesia terjerumus dalam krisis moneter maka gereja tergerak untuk membantu masyarakat dengan mengadakan pasar murah, bhakti sosial pengobatan, membagi sembako dll.

Beliaulah yang merintis pengumpulan dana abadi umat, yang dilanjutkan dengan mendirikan Yayasan Peduli Masyarakat St.Laurentius (YAPEMAS).
Ketika tugas Pastor Abukasman OSC di paroki St.Laurentius berakhir beliau digantikan oleh Pastor Alfons Bogaartz OSC (11 April 1999 - sekarang).
Pada awal jabatannya beliau melantik pengurus pertama PDKK Dei Verbum di paroki.

Kompleks Gereja Sukajadi juga dengan cepat menjadi sesak oleh bangunan dengan dibukanya Sanggar Pratikara tanggal 27 November 1987.
Kantor majalah keuskupan �Komunikasi� 18 maret 2000 dan Radio Raka 30 Oktober 2003. Kantor FMKI (Forum Masyarakat Katolik Indonesia)
November 1998. WKM (Wahana Karya Muda) diresmikan pastor Bogaartz tahun 2002.

Sumber : http://www.parokilaurentiusbdg.org/index.php?option=com_content&view=article&id=19&Itemid=27

Thursday, December 29, 2011

Paroki Pandu dalam Lintasan Sejarah

Gereja Pandu mulai dibangun pada tahun 1935, tepatnya pada tanggal 10 Mei 1935, ditandai dengan upacara peletakan batu pertama oleh Mgr. J. Goumans OSC. Detik-detik bersejarah itu diabadikan pada prasasti yang kini terpancang pada dinding pintu utama Gereja Pandu.

Sebelumnya umat katolik di daerah Pandu hanya memiliki sebuah gereja darurat yang terletak di Burgermeester Coopweg No 23 ( sekarang jalan Pajajaran ). Sejak tanggal 3 Juli 1934 Pastor J. de Rooij OSC menetap di sana. Beliau pula yang mempersembahkan misa yang pertama di sana pada tanggal 5 Agustus 1934.

Pembangunan Gereja Pandu terus dilaksanakan dengan mendahulukan pembangunan aula dan pastoran sehingga beberapa waktu kemudian, pastor sudah dapat tinggal di pastoran. Akhirnya, pada tanggal 17 November 1935 Gereja Pandu diresmikan dan diberkati oleh Mgr. J. Goumans OSC. Sampai sekarang Gereja Pandu tetap berdiri dengan megah dan anggun serta menjadi salah satu bangunan yang dilindungi (heritage).

PERKEMBANGAN PAROKI PANDU DARI MASA KE MASA

1. 1935 � 1942 : Masa jabatan Pastor J. de Rooij OSC
Pada masa ini yang menjabat Pastor Paroki adalah Pastor J.de Rooij OSC. Pada tahun 1938 datang Pastor J. Scharf OSC dan Pastor Th. Scheerder OSC. Pada tahun 1940 kedua pastor itu diganti oleh Pastor A. Vermeulen OSC dan Pastor C. Mooy OSC.

Ketika itu sudah ada pendidikan misdinar dan kelompok koor untuk mengisi misa. Jumlah umat katolik pada tanggal 30 Juni 1941 tercatat 1.640 jiwa, sebagian besar terdiri dari orang Eropa.

Pada saat Pastor J. de Rooij OSC cuti, Gereja Pandu dibimbing oleh Pastor A. v. Dijk OSC, Pastor C. v. Dal OSC dan Pastor J. v. De Pol OSC.

2. 1942 � 1945 : Jaman Jepang
Pada masa tersebut Indonesia sedang berperang melawan Jepang. Keadaan ini mempengaruhi kehidupan gereja. Pastor � pastor masuk Kamp Tawanan Jepang dan hanya Pastor H. Reichert OSC yang bebas. Beliaulah yang melayani umat katolik di Keuskupan Bandung seorang diri.

Selama masa pendudukan Jepang, Suster Hildegard OSU bersama dua orang rekannya dari Ursulin menjaga dan merawat Gereja Pandu agar tidak dirusak oleh Jepang. Selain itu pastoran dijadikan asrama anak yatim piatu putri.

3. 1945 � 1950 : Masa jabatan ke dua Pastor J. de Rooij OSC
Sesudah Indonesia merdeka, Pastor J. de Rooij OSC, Pastor A. Vermeulen OSC, Pastor C. Mooy OSC dan Pastor J. v. De Pol OSC kembali ke Pandu. Situasi belum stabil, banyak pastor datang dan pergi silih berganti, diantaranya Pastor H. Wentholt OSC, Pastor B. J. Leenders OSC dan Pastor C. v. Schaik OSC.

Suatu saat Pastor J. de Rooij OSC mempunyai gagasan untuk membuka sekolah dasar dekat gereja. Setelah dua kali dicoba, ternyata gagal karena kurang tenaga yang profesional.

4. 1951 � 1958 : Masa Jabatan Pastor C. V. Schaik OSC
Pastor J. de Rooij OSC dan Pastor J. Lamers OSC diganti oleh Pastor C. V. Schaik OSC. Beliau pula yang melanjutkan usaha Pastor J. de Rooij OSC untuk mendirian sekolah. Pada tahun 1951 Taman Kanak Kanak mulai dirintis, dilanjutkan dengan Sekolah Dasar pada tanggal 1 Juli 1952. Usaha tersebut dibantu oleh Yayasan Salib Suci. Gedung sekolah ini diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1955. selain itu, pada masa ini juga dibentuk Badan Hukum KERK EN ARM BESTUUR ( Badan Gereja Dan Amal ) yang mengurus harta milik gereja dan amal.

Sejak tanggal 27 Desember 1957 Pastoran Pandu mulai dijadikan biara dan rumah pendidikan calon pastor dan bruder OSC ( Seminari Tinggi ). Untuk itu, dibangunlah gedung dua lantai yang diberkati oleh Mgr Petrus Arntz pada tanggal 2 Januari 1962. Di biara Pandu inilah para calon imam OSC dibentuk secara intelektual, spiritual, sosial dan pastoral. Dengan diintegrasikannya rumah pendidikan para calon imam biarawan OSC di Paroki Pandu maka diharapkan pada calon imam OSC dapat belajar bukan hanya teori, tetapi juga melalui praktek dan interaksi dengan kehidupan umat sehingga pada saatnya mereka dapat menjadi imam-imam biarawan OSC yang siap melayani umat dijiwai oleh Spiritualitas Salib, hospitalitas, hidup komunitas dan kecintaan pada liturgi.

5. 1958 � 1963 : Masa jabatan Pastor B. J. Leenders OSC
Setelah masa jabatan Pastor C. V. Schaik OSC berakhir, Gereja Pandu dibimbing oleh Pastor B. J. Leenders OSC dibantu oleh Pastor Dohne OSC, Pastor Th. Kooster OSC dan Pastor A. v. Santvoort OSC.

Pastor B. J. Leenders OSC berinisiatif mendirikan Legio Maria, maka pada tanggal 14 Agustus 1958 didirikan Legio Maria presidium Bunda Berduka Cita yang anggotanya terdiri dari kaum bapak dan ibu. Kaum muda pun tidak mau ketinggalan, maka didirikan lagi presidium Bunda Kerahiman pada tanggal 26 Agustus 1959.

Pada tanggal 26 Februari 1959, Pastor J. de Rooij OSC meninggal dunia sebagai pastor Gereja Santo Paulus � Mohamad Toha. Pastor Dohne pun pindah dari Pandu dan diganti oleh Pastor H. Reichert OSC yang merintis pembentukan Badan Kesejahteraan Sosial untuk melayani mereka yang memerlukan bantuan dari gereja.

Tahun 1962, Gereja Pandu mendapat tambahan tenaga Pastor, yakni Pastor M. Sommers OSC dan Pastor J. Verhoeven OSC yang mendirikan Organisasi Wanita Katolik pada tahun 1962. Pada tahun ini, Paroki Pandu mulai dibagi menjadi 6 blok (leider), agar warga paroki mendapatkan pelayanan dan perhatian yang lebih intensif. Setiap blok (leider) dipimpin oleh seorang ketua yang berfungsi sebagai penghubung antara pastor dan umat.

Pastor B. J. Leenders OSC dipindahkan, maka Gereja Pandu kemudian dibimbing oleh Pastor H. Reichert OSC, Pastor J. Verhoeven OSC dan Pastor M. Sommers OSC.

6. 1964 � 1977 : Masa Jabatan Pastor H. Reichert OSC
Jabatan Pastor B. J. Leenders OSC diserahkan kepada Pastor H. Reichert OSC, yang dibantu oleh Pastor J. Hehenkamp OSC, Pastor C. Mooy OSC dan Pastor M. Sommers OSC.

Pada masa ini lahir lagi presidium Bunda Penebus (muda-mudi), Presidium Presidium Ratu Pecinta Damai (untuk remaja putri), Presidium Benteng Gading untuk remaja putra dan Presidium Rosa Mystica.

Umat merasakan perlu adanya Sekolah Lanjutan di Paroki Pandu. Oleh karena itu, dengan kerjasama Pihak Pangurus Yayasan Salib Suci, yang pada saat itu dipimpin oleh Bapak J. Mamusung dan Bapak A. Koesdarminta, didirikanlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mulai berjalan pada tanggal 1 Januari 1967.

Pada masa ini, dibentuklah sebuah organisasi kerohanian yaitu Maria Congegasi (M ) di bawah bimbingan Pastor H. Reichert OSC. Kelompok � kelompok lain yang lahir pada masa ini :

- Team Misa Muda Mudi ( TM3 ) yang dibentuk oleh Pemuda Katolik Pandu merupakan kelompok koor.
- Dewan Paroki Pandu, yaitu badan yang membantu pastor dalam memajukan dan mengembangkan paroki.
- Kredit Union (CU), merupakan koperasi simpan pinjam untuk membantu umat di Paroki Pandu.
- Dana Santunan Kematian Paroki Pandu ( DSKPP ) adalah oganisasi yang dibentuk untuk membantu keluarga orang yang meninggal dengan memberi santunan kematian.
- Kelompok Tata Tertib Gereja yang bertugas menjaga ketertiban selama perayaan ekaristi di Gereja.
- Koor muda mudi SMP Pandu yang ditugaskan untuk mengisi acara misa.
- Koor Gita Remaja yang sebagian besar beranggotakan siswa-siswi SMA.

Pastor yang datang di Paroki Pandu masa ini adalah Pastor J. Schellekens OSC, Pastor H. Leemakers OSC, Pastor Leo Van Beurden OSC, Pastor Hans Van Doorn OSC, sementara pastor yang pergi dari Paroki Pandu ialah Pastor J. Verhoeven OSC, Pastor J. Hehenkamp OSC dan Pastor C. Mooy OSC.

Pastor Leo Van Beurden OSC mengubah sistem pembagian wilayah paroki Pandu dari 6 blok (leider) menjadi 27 lingkungan masing-masing diketuai oleh ketua lingkungan. Setiap lingkungan wajib mengadakan pertemuan rutin bulanan.

7. 1978 � 1982 : Masa Jabatan Pastor Hans Van Doorn OSC
Pastor H. Reichert OSC dipindah tugaskan ke Katedral sehingga jabatan kepala paroki diserahkan kepada Pastor Hans Van Doorn OSC dibantu oleh Pastor Leo Van Beurden OSC. Disamping itu ada dua pastor lain yang tinggal di Paroki Pandu yaitu Pastor Mari Rooijakkers OSC dan Pastor M. A. W. Brouwer OFM. Jumlah umat katolik pada tahun 1979 tercatat 3.991 jiwa. Kegiatan-kegiatan lain yang ada pada masa ini :

- Long March by Night yang ditujukan bagi muda mudi, bertujuan untuk menggali tema �Panggilan� . Kegiatan ini dirintis oleh Pastor Leo Van Beurden OSC.
- Aksi Donor Darah yang dilaksanakan oleh Pemuda Katolik Komisariat Pandu bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia.
- Pekan Olah Raga Antar Lingkungan (PORAL) diprakarsai oleh Pastor Leo Van Beurden OSC, yang bertujuan untuk meningkatkan kekompakan umat Paroki Pandu melalui olah raga.
- Pagelaran Cantata, dipimpin oleh Bapak Ida Bagus Gede dalam rangka memperingati Santa Caecilia tahun 1982. Gereja Pandu adalah yang pertama mengadakan kegiatan Cantata.

Organisasi yang lahir pada masa ini adalah Presidium Penghibur Orang Berduka Cita dan organisasi bapak-bapak dengan namaPria Katolik Roh Kudus.

Bulan Oktober 1982, Pastor Hans Van Dorn OSC terpilih menjadi penasihat Magister General OSC sehingga beliau harus meninggalkan Paroki Pandu menuju Roma.

8. 1982 � 1983 : Masa Jabatan Pastor Leo Van Beurden OSC
Pastor Leo Van Beurden OSC memiliki banyak gagasan untuk mengembangkan Paroki Pandu, diantaranya adalah membentuk Badan Gereja dan Amal secara resmi dan menambah misa pada hari Minggu menjadi 5 kali termasuk misa Sabtu sore. Beliau juga menyarankan agar setiap lingkungan membentuk kelompok koor untuk mengisi misa.

Bulan Juli 1983 Pastor J. Souw Hong Goan OSC mulai membantu di Paroki Pandu, sementara Pastor Leo Van Beurden OSC cuti.

Pada tahun ini pula lahir presidium baru yaitu Presidium Bunda Rendah Hati untuk muda mudi di lingkungan Sukaraja � Komplek Husen Sastranegara. Kemudian dibentuk pula presidium khusus bagi para karyawan dengan pelindung Bejana Rohani.

9. 1984 � : Masa Jabatan Pastor J. Souw Hong Goan OSC
Kembali dari cutinya Pastor Leo Van Beurden OSC dipindahkan ke Katedral. Penggantinya adalah Pastor J. Souw Hong Goan OSC dibantu oleh Pastor Mari Rooijakkers OSC.

Disamping kesibukannya mengurus paroki, Pastor J. Souw Hong Goan OSC bertugas pula sebagai moderator Marriage Encounter Keuskupan Bandung dan sebagai ketua Panitia Kateketik Keuskupan Bandung.

Pastor J. Souw Hong Goan OSC berusaha melibatkan para anggota ME untuk berperan dalam gereja. Pada bulan Juli 1985 Pastor Herman Yoedianto OSC menjadi moderator Pemuda Katolik Cabang Bandung Komisariat Pandu serta membimbing organisasi kaum muda lain yang ada di Paroki Pandu. Sejak bulan September 1985 Pastor Agus Rahmat Widiyanto OSC datang membantu Paroki Pandu. Selain membantu Paroki Pandu, beliau bekerja sebagai dosen di Fakultas Filsafat & Teologi Unika Parahyangan.

10. Periode 1985-2009
Sejak tahun 1985-2009 para pastor yang melayani Paroki Pandu adalah Pastor Yosep Souw Hong Guan, Pastor Mari Roojakjers, Pastor Maman Suharman, Pastor Pastor Herman Judianto, Pastor Yosep Gandhi, Pastor Leo van Beurden, Pastor Y.C. Abu Kasman, Pastor Edwin Latumeten, Pastor FX. Rudiyanto Subagio. Sejak tahun 1999 Pastor Paroki dijabat oleh Pastor Agustinus Sudarno dan dibantu oleh Pastor Heri Kartono, Pastor Setevanus Budi Saptono, Pastor Rosaryanto, Pastor Laurentius Tarpin, Pastor Crispinus Budiman, Pastor Ignatius Purwo Suranto, Pastor Tarcisius Warhadi, Pastor Rob Stigter.

Pada akhir tahun 2008 umat paroki Pandu berjumlah 6308 orang yang terdiri dari 1514 kepala keluarga. Pada saat ini Paroki Pandu dibagi ke dalam 8 wilayah dan 41 lingkungan. Melalui pembagian ke dalam lingkungan-lingkungan, diharapkan umat dapat lebih merasakan persaudaraan dalam komunitas basis.

STASI � STASI

a. Gereja Caritas Wyata Guna
Di dalam kompleks Wyata Guna ada sebuah gedung gereja yaitu Gereja Caritas yang boleh digunakan oleh umat katolik dan Protestan. Gereja ini milik Wyata Guna dan didirikan dengan bantuan organisasi Christofel Blenden Mission � Jerman.

Sejak bulan Maret 1980, di Gereja Caritas diadakan misa terutama untuk umat katolik tuna netra yang tinggal di dalam kompleks Wyata Guna. Selain itu beberapa lingkungan yang dekat dengan Gereja Caritas dianjurkan untuk mengikuti misa di sana agar mengurangi kepadatan Gereja Pandu.

b. Gereja Santo Theodorus- Sukawarna
Bulan Agustus 1983 diperoleh izin pembangunan Gedung Serba Guna Sukawarna, yang sudah mulai direncanakan pada Januari 1980. Gedung Serbaguna di Sukawarna � Komplek Husen Sastranegara akan digunakan pula sebagai gereja bagi umat katolik di kompleks tersebut.

Gedung Serba Guna yang digunakan sebagai Gereja ini berkapasitas kurang lebih 350 orang. Pada awalnya Gereja Sukawarna merupakan stasi dari Gereja Pandu yang merupakan gabungan dari dua lingkungan yaitu Lingkungan Sukasari dan Sukaraja. Dewan Stasi Sukawarna dibentuk pada bulan Februari 1984. Gereja Sukawarna ini secara resmi diserahkan oleh Dewan Stasi Gereja Sukawarna kepada Paroki Pandu pada tanggal 16 Agustus 1985 serta diberkati oleh Bapak Uskup Mgr. A. Djajasiswaja Pr.

Pada saat ini stasi Sukawarna terdiri dari 12 lingkungan, yakni lingkungan Sukaraja, Cimindi Raya, Gunung Batu, Koprima-Boromeus, Maranatha, Cibogo, Mustang, Babakan Jeruk, Sukamulya, Mulyasari-Suka Damai, Resumi. Mulai tahun 2009, di Stasi Sukawarna dilayani misa harian pada tiap hari selasa dan kamis pagi.

Dinamika Pelayanan Pastoral Paroki Pandu

Paroki Pandu selalu berupaya untuk meningkatkan pelayanan pastoralnya baik pelayanan pastoral internal maupun pelayanan kepada masyarakat. Berkaitan dengan bidang pelayanan pastoral intenal, seperti Liturgi, Pewartaan, BIA/BIAR/ Kepemudaan dan Keluarga, dan kelompok basis, Paroki Pandu berusaha membuat liturgi yang menarik dan menyapa kehidupan umat. Dalam bidang liturgi, Paroki Pandu memiliki keunikan yakni memiliki Tim Misa Muda-Mudi (TM3) yang biasa melayani misa ketiga setiap bulan dengan menampilkan lagu-lagu liturgi dengan nuansa anak muda.

Mengingat jumlah frater Skolastikat OSC semakin berkurang dan pada tahun 2005 pendidikan para frater dipusatkan di Jalan sultan Agung 2, maka sejak tahun 2000 atas inisiatif Pastor Agustinus Sudarno OSC dibentuklah Pro Diakon Paroki Pandu yang bertugas membantu Pastor dalam membagi komuni kudus pada saat perayaan Ekaristi, (yang sebelumnya dilayani oleh para frater), membawa komuni kudus kepada orang-orang sakit dan melayani penguburan orang meninggal. Pada saat dibentuk ada sekitar 30 pro diakon yang dilantik oleh Bapak Uskup Bandung, Mgr. Alexander Djajasiswaja, Pr.

Sejak tahun 2007, setiap hari Senin, Rabu dan Jum�at di perayaan ekaristi dilaksanakan dengan konselebrasi 3 imam. Hal ini menjadi daya tarik bagi umat dan sekaligus memberi kesaksian tentang persaudaraan dalam presbiterat. Sejak tahun 2007 di Paroki Pandu setiap Jum�at pertama diadakan adorasi Sakramen Maha Kudus dari jam 07.00 pagi sampai jam 17.00. Sejak tanggal 8 September 2009 di Paroki Pandu ada Adorasi Abadi sakramen Maha Kudus. Banyak umat yang datang beradorasi setiap harinya. hal ini menunjukan kecintaan umat pada Ekaristi.

Dalam bidang kemasyarakatan, pelayanan pastoral dikoordinir dibawah bidang Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kesehatan dan Pendidikan. Di dalamnya mencakup Balai Pengobatan, Koperasi, Bantuan sosial, baik yang sifatnya karitatif maupun pemberdayaan. Dalam upaya memberdayakan masyarakat ekonomi lemah, Koperasi Kredit Pelangi Kasih memegang peranan penting. Pada saat ini Koperasi Pelangi Kasih sudah memiliki anggota 375 orang dengan aset sekitar 1 M.

Dalam rangka membantu pengobatan kepada umat paroki Pandu yang kurang mampu dan sekaligus sebagai pelayanan kepada masyarakat kelurahan Pamoyanan, Paroki Pandu membuka Balai Pengobatan sejak tahun 2002. Pada tahun 2007 jumlah pasien yang datang berobat ke BP Pandu sekitar 11.973 orang. Pasien yang disubsidi berjumlah 984 orang. Selain pengobatan modern, Paroki Pandu juga menyelenggarakan pengobatan alternatif bersama Romo Loogman. Dalam rangka membantu meningkatkan kesehatan anak-anak, PSE membantu 5 Posyandu dan memberi tambahan gizi bagi anak-anak, serta memberi pelayanan kesehatan gratis setiap tahun bekerjasama dengan Kelurahan Pamoyanan.

Dalam rangka membantu mencerdaskan anak bangsa, Paroki Pandu dibawah PSE memberi bantuan beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu. Mereka terdiri dari anak-anak yang beragama Katolik dan non Katolik. Pada tahun 2008, anak-anak yang dibantu biaya studinya berjumlah 231 orang. Selain itu, Paroki Pandu juga membantu anak-anak usia dini melalui PAUD yang bertempat di Stasi Sukawarna.

Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan, sejak kepemimpinan Romo Agustinus Sudarno, setiap tahun diadakan Rapat Kerja tahunan yang diikuti oleh Dewan Pastoral Paroki beserta seksi-seksinya. Melalui Raker ini DPP dan tiap seksi membuat rencana kegiatan dan sekaligus mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan.

Dengan berkembangnya umat dan kegiatan pastoral, maka kebutuhan akan ruangpun bertambah. Oleh karena itu, pada tahun 2008 dimulai pembangunan gedung pastoral yang diharapkan akan semakin meningkatkan jumlah dan mutu pelayanan pastoral. Pembangunan dilakukan dengan swadaya umat paroki Pandu, Ordo Salib Suci, dan donatur. Semoga dengan adanya tambahan fasilitas pelayanan pastoral, Umat Paroki semakin dapat menjadi Gereja yang hidup, mengakar, mekar dan berbuah, serta semakin dikenal dan dicintai oleh masyarakat sekitar. Dengan demikian, kehadiran Umat Paroki Pandu dilihat bukan sebagai sosok asing, tetapi menjadi bagian integral masyarakat Bandung yang ikut peduli terhadap persoalan sosial kemasyarakatan di lingkungan sekitar mencontoh Orang Samaria yang baik hati.

Dengan menyadari tantangan jaman kita sebagai umat Paroki Keuskupan Bandung dipanggil untuk membaca tanda-tanda jaman dan menginterpretasikannya dalam terang Injil sehingga pelayanan pastoral kita sungguh-sungguh dapat memenuhi kebutuhan umat dan dampaknya dapat dirasakan masyarakat sekitar. (disadur dan disarikan dari berbagai sumber oleh Laurentius Tarpin, OSC)

Sumber : http://pandu.katolik.or.id/about-pandu/lintasan-sejarah-paroki-pandu/

Recent Post