Sejarah Gereja Mlati Tahun 1936-1961
Dari Gereja Mlati umat bertumbuh
Pembangunan gereja Mlati selain alasan strategis sebagaimana diungkapkan dalam bagian di atas, juga terlebih karena alasan penggembalaan terhadap umat yang semakin bertumbuh. Dari buku baptis yang ada di Paroki Medari sebelum tahun 1936 atau sebelum adanya Buku Baptis di Mlati terdapat data hasil pencatatan oleh bapak FB. Driyanto dan Bp. P. Subardiyono (sekretaris Paroki Mlati) sebagai berikut:
1) Dari buku baptis tahun 1919 sd 1935 ada sebanyak 1443 baptisan yang tercatat di Paroki Medari. Di antara itu ada 582 baptisan berasal dari daerah yang sekarang ini termasuk wilayah paroki Mlati.
2) Dari 582 orang itu dapat dipaparkan perincian mengenai asal baptisan seturut dengan 15 Wilayah yang sekarang ini ada di paroki Mlati (Tambakrejo dan Karangmloko masih menjadi satu).
Berikut ini perinciannya:
Donoharjo Utara : 44 orang
Donoharjo Selatan : 9 orang
Dukuh : 91 orang
Tridadi : 40 orang
Warak : 49 orang
Cebongan : 29 orang
Getas : 14 orang
Plaosan : 70 orang
Mlati : 47 orang
Tambakrejo+Karangmloko : 23 orang
Duwet : 93 orang
Kronggahan : 3 orang
Brekisan : 41 orang
Bolawen : 3 orang
Jomblang : 7 orang
Luar �paroki Mlati�: Sayegan dll : 19 orang
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa:
a. Pada saat sebelum adanya gereja Mlati di wilayah yang sekarang ini termasuk paroki Mlati ada 40,3 % orang dari 1443 umat di wilayah yang sekarang termasuk Paroki Medari yang menerima baptisan. Tentu saja kesimpulan tersebut tidaklah valid 100% sebab hal itu hanya mendasarkan pada catatan buku baptis dan tidak memperhitungkan mutasi/perpindahan umat. Tetapi dari data itu sudah dapat memberikan gambaran betapa dalam 17 tahun sejak 1919 terjadi pertumbuhan umat sebanyak 582 umat yang dipermandikan dari wilayah Mlati yang sekarang menjadi wilayah Paroki Mlati.
b. Kesuburan jumlah baptisan berasal 3 wilayah asal terbesar adalah wilayah Duwet, Dukuh dan Plaosan. Kesuburan jumlah baptisan di suatu daerah tertentu dapat dibaca sebagai gerak karya Tuhan lewat para tokoh pada waktu yang bersangkutan.
Berikut ini beberapa gambaran peristiwa sejarah pada masa setelah adanya gereja Mlati berdasarkan buku Panca Windu Gereja Mlati hlm 25-28:
a) Setelah adanya gereja Mlati maka umat di daerah teritorial Mlati dijadikan sebagai stasi dalam penggembalaan pastor paropki Kotabaru. Perayaan Ekaristi diadakan 2 kali sebulan yakni pada hari minggu kedua dan keempat oleh romo dari Kotabaru. Sedangkan Perayaan Ekaristi pada minggu pertama dan ketiga diadakan di gereja Medari. Suasananya dapat digambarkan sebagai berikut:
� umat duduk di atas tikar
� bangku panjang untuk duduk baru ada 4 buah, dan satu bangku panjang untuk khusus menyambut komuni suci.
b) Perawatan gereja mula-mula didilakukan oleh bapak Fr. Sumitro dan diganti oleh bapak Sadat Daryosusiswo, seorang guru vervolgschool di Mlati dengan dibantu para muridnya.
c) Pada tahun 1938 di Mlati didirikan perkumpulan �Katholika Wandawa� yang kegiatannya antara lain mengurus kebutuhan gereja.
d) Bp. Daryosusiswo kemudian pindah ke Nguntaranadi Wonogiri menjadi guru di Sekolah Ongko Loro (Sekolah Negeri) dan digantikan oleh Bp. Maliki Jayawikarto.
e) Pelajaran agama juga diperankan oleh para guru sekolah Yayasan Kanisius yang didirikan oleh Rm. Strater SJ dibantu oleh para Frater dan para Bruder SJ. Pantas disebut jasa Br. Endrodarsono yang giat mengunjungi umat di wilayah Plaosan, Duwet, Mlati dan Tambakrejo dengan bersepeda. Kemudian beliau diganti oleh Br. Purnomo SJ.
f) Tahun 1938 Perayaan Ekaristi di gereja Mlati tidak hanya pada hari minggu kedua dan keempat tetapi juga pada hari Jumat Pertama tiap bulan. Selain itu pada hari minggu pertama diselenggarakan lof (astuti atau penghormatan kepada sakramen mahakudus). Selanjutnya pelayanan Ekaristi ditambah yakni pada hari raya yakni: Kristus Raja, Kenaikan Yesus, Bunda Maria diangkat ke surga. Bahkan juga diadakan perarakan sakramen Mahakudus pada hari raya Kristus Raja mengelilingi gereja dengan hiasan janur dan vandel yang didatangkan dari Kotabaru. Dalam acara seperti itu gereja penuh sesah karena umat datang melimpah. Keadaan itu berlangsung sampai tahun 1941
Penjajahan Jepang dan pengaruhnya terhadap umat katolik di wilayah Mlati (diolah dari buku PWGM hlm 29-35)
Pecahnya perang dunia II turut mempengaruhi situasi di Indonesia (dulu: Hindia Belanda). Bagi pemerintahan Hindia Belanda, Jepang menjadi ancaman bagi keberadaannya di Hindia Belanda. Pada tanggal 1 Maret 1942 Jepang mendarat di Pulau Jawa. Sebelum itu keadaan ekonomi morat-marit, hati tidak tenang dan kebingungan mencekam penduduk. Ajaran agama tidak terurus dengan baik, gereja nampak sepi hampir tak terkunjungi. Pada tanggal 28 Februari (1942?) para guru Misionaris atau Kanisius mendapat gaji dan ditambah gaji darurat untuk 3 bulan berikutnya.
Tanggal 1 Maret 1942 sekolah-sekolah Misi ditutup untuk jangka waktu yang tidak tentu. Sementara itu pada pada tanggal 4 Maret 1942 jam 03.30 tentara Jepang sudah berada di jalan Denggung dan menghadang tentara Belanda. Umat yang akan ke gereja pada Hari Jumat Pertam itu melihat keadaan itu lari mencari selamat. Selanjutnya pada tanggal 8 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Maka mulailah suasana penjajahan Jepang.
Berikut beberapa situasi/peristiwa yang memberi gambaran masa pendudukan Jepang dan pengaruhnya bagi karya misi Gereja.
a. Setelah menduduki Hindia Belanda, Jepang memerintahkan agar semua kantor, sekolahan, toko dan pasar untuk dibuka kembali agar kehidupan kembali seperti semula. Tetapi bagi mereka yang jatuh karena kekalahan rejim Belanda semua itu tinggal kenangan.
b. Sekolahan misi harus dibuka kembali. Para guru disuruh mengajar tetapi tidak mendapat gaji. Yayasan Kanisius pun tak ada uang untuk menggaji para guru. Yayasan bahkan menyerahkan pengelolaan sekolahan kepada para guru: mau dibuka atau ditutup.
c. Sampai dengan Juli 1942 aktivitas hidup katolik seperti biasanya. Persembahan Korban Misa pada Minggu kedua dan keempat berjalan biasa. Tetapi tekanan ekonomi dan rasa tidak senang terhadap orang-orang katolik yang dituduh pro Penjajah Belanda menyebabkan mengendornya semangat kekatolikan. Tak jarang mereka yang katolik (tokoh) dituduh mengadakan gerakan bawah tanah melawan Jepang. Banyak korban dalam hal ini.
d. Sementara itu Rm. Strater SJ tetap giat menyemangati umat siang malam di daerah Medari, Kalasan, Mlati, Kokap, Bantul dan Wates. Karena itulah beliau ditangkap oleh tentara Jepang di gedung Broederan Kidul Loji dan ditahan di Ngupasan tanggal 14 Agustus 1942. Peristiwa itu semakin menggelisahkan umat katolik di Yogyakarta, Magelang dan Solo.
Berikutnya beberapa tokoh yang mengalami penangkapan oleh Jepang yakni:
a) Bapak Kresnoamijoyo seorang tokoh umat dari Medari
b) Bapak Laman Joyosumarto seorang guru dan kepala sekolah di Dukuh Mlati.
c) Bapak Siswoharsono seorang tokoh katolik di Bantul.
d) Tanggal 20 Agustus 1942 bapak F. Sumitro juga ditangkap. Karena siksaan berat beliau meninggal di RS Bethesda tanggal 27 Agustus 1942.
e) Selanjutnya Rm. A. van Kalken dan Rm. A. Joyoseputro SJ juga ditangkap dan diadili di Jakarta.
e. Pada Januari 1945 gedung Seminari Agung di Jalan Code disita Jepang sehingga untuk sementara waktu menumpang di Panti Rapih menempati Novisiat para Suster CB.
f. Sejak Rm. Strater ditangkap maka penggembalaan umat di Mlati dilakukan oleh beberapa romo silih berganti. Sebagai gambarannya adalah sebagai berikut:
� Mulai Agustus 1942 pelayanan umat oleh Rm. G. Vriens SJ, diganti Rm. E. Koersen dan akhirnya Rm. Bastianse. Ketiganya akhirnya ditahan di Kotabaru dalam bulan September 1943.
� Lewat surat kabar �Sinar Matahari� diberitakan bahwa mereka yang ditahan (para romo dan tokoh umat) diputuskan untuk dihukum mati, atau dihukum seumur hidup, atau 20 tahun, 15 tahun dll. Dengan adanya keputusan itu para tahanan dipindahkan dari Jakarta ke Bandung. Romo Strater dan bapak Joyosumarto meninggal di dalam hukuman di Bandung.
g. Beberapa Romo dan Bruder ada yang ditahan di Kesilir, sebelah barat Banyuwangi daerah Blambangan. Bruder Timoteus memberikankesaksian tentang hal itu karena beliau meninjau para tahanan dengan membawa surat izin dari Tahta Suci Roma.
h. Rm. G. de Quay SJ sekretaris Mgr. Soegijapranata SJ ditawan dan digantikan oleh Rm. T. Wignyasupadmo SJ yang membawa surat dari Rm. G. van Baal, Superior SJ yang isinya menyerahkan kedudukan Superior SJ kepada Mgr. Soegijapranata SJ. Dengan demikian maka kedudukan Mgr. Soegijapranata SJ juga menjadi Superior SJ. Selanjutnya RM C. Martawardaya SJ dijadikan wakil Superior.
i. Mgr. Soegijopranata SJ berkenan mentahbiskan Rm. Harjowarsito Pr. Selanjutnya menjadi Presiden Seminari Tinggi serta ditambah urusan pelayanan luar kota termasuk di Mlati. Beliau bekerja juga bersama Rm. C. Martawardaya SJ hingga bulan September 1945.
Kemerdekaan RI, revolusi kemerdekaan dan pengaruhnya (terhadap Gereja di Mlati) (diolah dari buku PWGM hlm 36-40)
Peristiwa sekitar kemerdekaan masih sangat memberi warna situasi: rakyat berhadapan dengan Sekutu dengan Belanda yang masih membonceng tentara Sekutu. Keadaan ekonomi sosial yang carut-marut melemahkan niat memelihara kehidupan iman. Bahkan ada desas-desus bahwa pemeluk agama Katolik adalah pro Belanda sehingga membuat orang katolik takut menampakkan dirinya.
Bulan Oktober 1945 urusan Gereja Mlati dipercayakan kepada Rm. Soemarna SJ, lalu Rm. Mertawardaya SJ, dan akhirnya Rm. A. Djajaseputra SJ.
Pada malam Jumat Kliwon 7 Januari 1949 segerombolan pemuda yang telah membumihanguskan bangunan kecamatan Mlati mendatangi kediaman bapak Sudino, dan rumah bapak C. Wignyosudarmo yang kosong. Bapak Sudino dibunuh sedang bapak Wignyosudarmo selamat kerena sedang berada di Plaosan.
Niat membumihanguskan gereja Mlati dengan alasan agar tidak menjadi markas Belanda dapat dicegah oleh bapak lurah Wongsopramujo.
Keadaan gawat itu berlangsung sampai 30 Juni 1949. Pelayanan di gereja Mlati berturut-turut oleh Rm. Djajaseputra SJ, Rm. Mertowardaya SJ (sampai Oktober 1949), Lalu Rm. Th. Holthuyzen SJ dari Kotabaru. Kehidupan umat mulai tertata: muncul Wanita Katolik, Muda Katolik Indonesia, pembagian umat menjadi beberapa kring. Selama Rm. Th. Holthuyzen SJ cuti urusan pelayanan dilaksanakan oleh Rm. W van Heusden SJ dibantu Rm. Ciptoprawata Pr dan Rm. Harjawardaya Pr. Setelah itu Rm. Holthuyzen digantikan oleh Rm. Th. Harsawijaya pada tahun 1959.
Menjadi stasi dari Kotabaru (diolah dari Teks PWGM hlm 41-42)
Dalam buku Panca Windu Gereja Mlati halaman 41 disebutkan bahwa �sekitar tahun 1952 urusan Gereja disempurnakan sehingga Mlati tidak lagi menjadi Stasi dibawah Kotabaru, tetapi ditetapkan sebagai Paroki Mlati. Baru pada tanggal 1 Januari 1955, Paroki Mlati dilepas dari Kotabau sama sekali harus berdiri sendiri, karena umat sudah dipandang mampu mengurus kebutuhan Paroki kecuali bila pembangunan atau reparasi besar-besaran�. Tulisan itu bertentangan dengan kenyataan bahwa paroki Mlati baru mempunyai pastor paroki pertama kali pada tahun 1960 yakni sejak Rm. A. Wignyamartaya, Pr ditetapkan sebagai Pastor Kepala Paroki dan baru menetap di Pastoran Mlati tahun 1961. Maka besar kemungkinan yang dimaksud dalam buku PWGM itu adalah bahwa Mlati menjadi stasi mandiri tahun 1955 dan baru pada tahun 1960 menjadi Paroki.
Pada masa-masa ini keaktifan umat dalam politik juga nampak sebagaimana muncul para tokohnya yakni: Bp. Lukas, Bp. Boediono, Bp. Soepardiyana, Bp. Soeprapta, dll. Kemajuan umat dalam peribadatan nampak dengan dibukanya tempat peribadatan di Donolayan di rumah Bp. Sugiyo dan di Warak di rumah Bp. Padmawarsito. Pada masa ini pelayanan imam oleh Rm. Holthuyzen dan Rm. Harsawijaya sampai dengan diganti oleh Rm. A. Wignyamartaya Pr tanggal 16 Agustus 1960 yang masih tinggal di Pastoran Medari (karena pembangunan pastoran Mlati belum selesai). Baru pada tanggal 1 Oktober 1961 Rm. A. Wignyamartaya Pr menetap di Pastoran Mlati.
Sumber : http://historiadomus.multiply.com/journal/item/43/030_Sejarah_Gereja_Paroki_Aloysius_Gonzaga_Mlati
Gambar : http://baitallah.wordpress.com/
Kekatolikan sebelum ada Gereja Mlati
Dari Muntilan ke Mlati
Karya misi oleh para Yesuit di tanah Jawa diawali ketika mereka datang pada tahun 1859 dengan tujuan membantu imam-imam diosesan di bawah pimpinan Vikaris Apostolik Mgr Vrancken (1847-1874) dan Mgr. Claessens (1874-1893). Dalam perjalanan waktu karya misi diambil alih oleh para Yesuit dan pada tahun 1893 kepemimpinan misi diserahkan kepada para Yesuit dengan Mgr. J. Staal, SJ sebagai Vikaris Apostolik yang baru (Indonesianisasi hlm. 82). Dalam catatan sejarah KAS ada 6 stasi yang semula menjadi wilayah KAS (KAS Indonesia hlm 13) sekarang ini, yakni:
Semarang dengan Rm. L. Prinsens Pr sebagai pastornya sejak 1808
Ambarawa dengan Rm. CJH. Frenssen Pr sebagai pastornya sejak 1859
Yogyakarta dengan Rm. JB. Palinckx SJ sebagai pastornya sejak 1865
Magelang dengan Rm. Fr. Voogel SJ sebagai pastornya sejak 1889
Muntilan dengan Rm. Fr. van Lith SJ sebagai pastornya sejak 1897
Mendut dengan Rm. P. Hoevenaars SJ sebagai pastornya sejak 1899
Karya Rm. Fr. Van Lith SJ di Muntilan pada dasarnya disampaikan lewat jalur pendidikan dan budaya. Lewat jalur pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat. Dari situlah benih iman kristiani dapat disebarkan di Muntilan dan sekitarnya. Dari lulusan sekolah van Lith di Muntilan itulah nantinya muncul tokoh-tokoh Gereja dan masyarakat. Jalur pendidikan dipilih sebab dapat menjadi mediasi untuk mewujudkan iman, yang diharapkan membuahkan transformasi sosial. (Suharyo, hlm. 288). Selain itu Rm. F. van Lith SJ sangat menaruh hormat terhadap budaya setempat, budaya Jawa sebagaiman nampak dari tindaknnya yang: tidak bertempat tinggal di pastoran Muntilan yang ada di daerah pecinan tetapi pindah di kampung Semampir di tengah-tengah orang Jawa. Beliau juga belajar adat-istiadat Jawa dari para pangeran di Yogyakarta dan akhirnya beliau menterjemahkan doa Bapa Kami ke dalam Bahasa Jawa.(bdk Tim KAS 25). Hasil pendidikan di Muntilan itu adalah rasul-rasul awam yang gigih mewartakan nilai-nilai kristiani. Dari daerah yang sekarang termasuk paroki Mlati dapat disebutkan murid-murid Rm. Van Lith, yakni:
Sdr. Marji dari Warak yang dipermandikan pada tahun 1914 kemudian menjadi seorang Bruder di tarekat FIC dengan nama Br. Timotheus FIC pada tanggal 15 Agustus 1926. Beliau dikenal sebagai pencipta wayang wahyu.
Sdr. Suradi dari dusun Sendari, Tirtoadi yang dipermandikan tahun 1914. Kemudian bertempat tinggal di Bausasran Yogyakarta sebagai pesiunan guru dengan nama lengkapnya Yulianus Suradi Padmowiyoto.
Sdr. Katiman dari dusun Warak, tinggal di Warak sebagai pensiusnan pegawai Kereta Api, dengan nama lengkapnya Antonius Katiman Sastrosutanto.
Kismin dari dusun Plaosan yang dipermandikan tahun 1915 dengan nama baptis Chrispinus dan kemudian menjadi imam bernama Rm.C. Martowardaya SJ, yang meninggal tahun 1975.
Mereka berempat dibaptis oleh Rm. H. van Driessche SJ (seorang Indo-belanda yang menjadi imam, dan pada tahun 1922 menjadi guru di kolose Muntilan). Ia menjadi pembantu Rm. F. van Lith SJ dalam karya misinya. Selain mereka berempat ada satu yang juga banyak berjasa dalam penyebaran iman kristiani yakni FB. Saidi Padmowarsito dari dusun Warak yang dipermandikan pada tahun 1924.
Rm. Fr. Strater SJ, Rm. Van Driesche SJ dan para rasul awam
Permulaan tahun 1917 Rm. Fr. Strater SJ tiba di Jakrta dan setahun kemudian menetap di Yogyakarta. Semula beliau hanya bekerja untuk kalangan umat Belanda. Namun segera ia belajar bahasa Jawa dan bekerja sama dengan Rm. Van Driessche SJ yang sejak tahun 1919 meninggalkan Muntilan dan menetap di Yogyakarta. Kedua pastor itu akhirnya bekerja sama dalam pelayanan kepada umat katolik. Sejak tahun 1922 Rm. Strater SJ menjabat pimpinan Novisiat Serikat Yesus yang baru dibuka di Yogyakarta. Kedua pastor Belanda itu akhirnya berbagi tugas dalam melayani umat katolik yakni:
Daerah Yogyakarta bagian Selatan dan Barat dilayani oleh Romo H. van Driesche SJ, bahkan sampai daerah Purworejo yakni daerah Begelan.
Yogyakarta bagian Timur dan Utara dilayani oleh Rm. Fr. Strater SJ sehingga beliau sering mengunjungi daerah-daerah Cebongan, Druju, Sayegan, Warak, Plaosan, Medari, Duwet dan Kalasan. Beliau juga mempersembahkan kurban misa jika kesempatan memungkinkan
Berikut ini dipaparkan beberapa peristiwa dan peran pribadi dan kaum awam pada masa itu:
Pada tahun 1921 Rm. Van Driesche SJ membaptis ayah Marji (Br. Timotheus FIC) yakni Bp. Mangunrejo alias Ranupawiro karena sakit keras.
Di Cebongan seorang mandor pabrik gula bernama Joyoharjo punya anak bernama Srenggono yang lebih dahulu menjadi Katolik, tertarik untuk menjadi Katolik. Maka ia beserta keluarga dipermandikan juga. Setelah mengundurkan diri dari tugasnya di pabrik belaiau mengajar agama. Seorang dari putranya bernama Latifah menjadi suster CB dan wafat pada tahun 1976 di Jakarta.
Rm. H. van Driesche SJ juga menghimpun para pemuda-pemudi untuk dapat bekerja di pabrik cerutu CV. Negresco (atau Taru Martani). Para pekerja itu tinggal di kota di asrama yang bernaung dibawah Yayasan Santa Melania di jalan Sukun (sekarang menjadi lokasi SMPK Gayam). Sebagai bapak asrama ditunjuk Bp. Ignatius Wiryoutomo seorang guru Standaarschool di Kumendaman. Kelak dikemudian hari Bapak itu menjadi pertapa di biara Trapis Rowoseneng Temanggung.
Dalam buku Panca Windu Gereja Mlati menyebutkan beberapa wanita yang menjadi karyawati CV. Negresco antara lain sebagai berikut:
Antonina Katijah, adik dari Antonius Katiman yang menjadi suster OSF, yang meninggal tanggal 7 Januari 1976 dan dimakamkan di Ambarawa.
Elisabeth Juminten yang menjadi isteri Bp. Padmowarsito di Warak.
Helena Sanikem yang menjadi anggota suster OSF.
Bernadetta Samiyem yang menjadi isteri bapak Matheus Darmosukarto di Warak.
Fransiska Romana Sujini yang menjadi isteri bapak Notoharsono di Kadisobo.
Sumartinah yang menjadi isteri bapak Siswoharsono di Bantul.
Karya pendidikan di Mlati
Melanjutkan strategi pewartaan Rm. Van Lith SJ maka Rm. Fr. Strater SJ juga mendirikan lembaga pendidikan untuk masyarakat. Beberapa peristiwa sejarah dalam karya pendidikan di Mlati pada masa ini adalah didirikannya beberapa sekolah yakni:
Sekolah rakyat (volkscholen) yang tahun ajarannya sampai kelas tiga tamat, yakni: tahun 1924 di Plaosan, tahun 1926 di Denggung dan tahun 1929 di Brengosan, Karanglo dan Bugisan.
Sekolah lanjutan (vervolgscholen) yang menampung lulusan volkscholen yang mempunyai masa pendidikan sampai kelas enam tamat yakni: tahun 1931 di Dukuh dan tahun 1935 di Mlati.
Kursus Guru Desa (disingkat kgd, atau Cursus volksonderwijzers disingkat CVO) didirikan untuk mendidik tenaga guru volkscholen.
Untuk tenaga guru yang mengajar di vervolgscholen diambil dari lulusan Normaalschool Muntilan dan Ambarawa bahkan dari Kweekschool juga.
Para guru volkscholen.dan vervolgscholen oleh Rm. Strater SJ pada sore dan malam hari diberi tugas mengajar agama di berbagai tempat. Sementara itu juga pantas untuk kita ingat peran para guru agama di tempat mereka masing-masing yakni:
Bapak Joyoharjo di Cebongan
Bapak Petrus Setrokartomo di Nganggrang Sayegan
Bapak Tarno Harjohadisumarto di Sayegan
Bapak Seco atau Secopelus di Plaosan
Bapak Prawirosentono di Duwet.
Dengan jalur pendidikan itu pada awalnya para murid sekolah-sekolah itu menjadi katolik dan kemudian orang tua mereka juga ikut tertarik dan menjadi katolik. Memang strategi pewartaan lewat jalur pendidikan membuahkan hasil yang menggembirakan.
Kapel Duwet dan Niat untuk mendirikan gereja Mlati
Pada masa itu di kota Yogyakarta baru ada 2 gereja yakni gereja St. Antonius Kotabaru dan St. Fransiskus Xaverius Kidul Loji. Sementara itu orang Jawa semakin banyak yang menjadi katolik sehingga mendorong Rm. van Driesche SJ untuk merubah sebuah bangunan tua menjadi gereja yang dapat menampung sekitar 2000 orang. Kelak di kemudian hari bangunan ini diganti dan didirikan bangunan baru gereja yang kita kenal dengan nama gereja St. Yusup Bintaran.
Sementara itu di Yogyakarta bagian Utara kurban Misa dilaksanakan di sekolah-sekolah dengan dihadiri para murid dan para guru yang lambat laun juga oleh orang tua para murid tersebut. Misalnya di sekolah Morangan dekat pabrik gula Medari. Para pengunjung berasal dari berbagai tempat yakni: Kembangarum, Kadisobo, Somohitan, Salam, Sayegan, Cebongan, Warak, dan Plaosan ikut misa di Morangan tersebut. Maka di kemudian hari didirikan gereja Medari dan diberkati oleh Mgr. A. van Velzen tanggal 27 Oktober 1927. Sementara itu misa di rumah-rumah umat tetap berjalan seperti di Daplokan Druju, Salam, dan Brengosan (Karanglo). Melihat kenyataan itu Rm. Strater SJ kemudian berniat mendirikan tempat ibadah di Duwet yang secara strategis dapat menampung umat dari Duwet sendiri, Kebonagung, Jaten, Beran, Ngepos, dan Denggung. Selanjutnya Rm. Strater SJ membeli sebidang tanah lewat jasa Bp. Afandi di Duwet dan didirikan sebuah kapel. Beaya pembuatan kapel dicatat dalam majalah St. Claverbond sebesar 400 gulden, termasuk harga tanah yang bangunan berukuran 4 kali 8 meter persegi dengan dinding gedeg. Pada tanggal 8 Desember 1931 pada Pesta Bunda Maria tak Bernoda kapel diberkati dalam sebuah ekaristi. Yang menerima komuni sejumlah 116 orang dari 362 yang hadir. (PWGM hlm. 22)
Namun kemudian kapel sudah tidak dapat menampung umat berkat karya pewartaan bapak Prawirosentono seorang guru agama yang aktif berkarya. Maka Rm. Strater SJ berniat memperbesar kapel Duwet tersebut menjadi gereja. Namun Bp. Fr. Sumitro, seorang guru HIS Bruderan di Kidul Loji yang tinggal di Mlati memberikan pertimbangan kepada Rm. Strater SJ sebagai berikut:
* Sebaiknya gereja dibangun di Mlati sebab jika didirikan di Duwet letaknya terpencil.
* Mlati lebih stratergis daripada Duwet karena terletak di pinggir jalan besar dan jalan kereta api jurusan Yogyakarta � Magelang, bahkan ada stasiunnya
* Mlati dekat dengan tempat pemerintahan setempat yakni seorang Asisten Wedono di Mlati
* Walaupun saat itu hanya ada dua keluarga katolik di Mlati yakni Bp. Fr. Sumitro dan Bp. Jayasumitro, tapi lambat laun diyakini bahwa di Mlati akan berkembang jumlah umat katolik.
Pertimbangan itulah yang juga disampaikan kepada Rm van Baal SJ (superior misi yang baru) dan Rm. A. van Kalken (superior misi yang lama) dan disetujui dengan catatan harus disediakan tanah di Mlati. Selanjutnya seorang keluarga di Mlati (Bp. Ranu) yang akan pindah di Payaman sebelah utara Magelang menjual tanahnya kepada gereja. Hal itu terjadi tahun 1934 dengan harga 200 gulden. Setelah urusan pemindahan hak milik selesai maka dimulailah pembangunan gereja tahun 1935. Mengenai suasana pemberkatan gereja Mlati buku Panca Windu gereja Mlati (PWGM) yang mengutip majalah St. Claverbond menyebutkan beberapa point sebagai berikut:
Gereja Mlati adalah gereja keempat yang diberkati oleh YM. Mgr. P. Willekens SJ yakni:
� tanggal 29 Maret 1936 gereja Wates
� tanggal 05 April 1936 gereja di Bantul
� tanggal 15 Juli 1936 gereja di Nanggulan
� tanggal 26 Juli 1936 gereja di Mlati
Gereja Mlati dibangun dengan menghabiskan biaya 7000 gulden yang dapat menampung 1500 umat. Ada dua gambar kaca di dinding belakang panti imam yakni gambar St. Aloysius Gonzaga (Pelindung gereja Mlati) dan St. Yohanes Berchmans. Kedua lukisan itu merupakan sumbangan dari Kolose Ignatius di Amsterdam. Selanjutnya ada sumbangan Tabernakel dari seorang donatur dari Amsterdam.
Pemberkatan gereja terjadi pada hari Minggu Pahing 26 Juli 1936 (atau tanggal 6 Jumadilawal 1867 tahun Alip Windu Adi). Pada saat acara itu Mgr. P. Willekens SJ didampingi oleh Rm. Van Baal SJ dan Rm. Fr. Strater SJ. Pada tamu undangan yang hadir adalah beberapa Romo dari Kotabaru, para Romo dari luar daerah, seorang Wedono dari Sleman dan asisten Wedono dari Mlati. Selesai pemberkatan diadakan acara pertemuan ala kadarnya di rumah Bapak Setrodrono, kepala desa Mlati.
Sumber : http://historiadomus.multiply.com/journal/item/43/030_Sejarah_Gereja_Paroki_Aloysius_Gonzaga_Mlati
Gambar : http://baitallah.wordpress.com/
Masa Pra � Paroki
Sejarah Paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulung berkaitan erat dengan keberadaan Perguruan Tinggi Sanata Dharma di Mrican. Keberadaan Universitas tersebut membawa perkembangan baru dalam kehidupan gereja paroki Kristus Raja Baciro. Ketika itu, sekitar tahun 1964, pastor paroki dipegang oleh Romo Joannes Stormmesand, SJ. Di sekitar Universitas Sanata Dharma ada dua lingkungan (dulu: Kring) di wilayah Baciro yaitu lingkungan Mrican dan lingkungan Kolombo.
Untuk mengikuti perayaan Ekaristi, termasuk pada hari Minggu, umat di kedua lingkungan tersebut tidak perlu jauh-jauh pergi ke gereja Baciro, melainkan cukup ke kapel Sanata Dharma. Setiap hari dan hari Minggu di selenggarakan perayaan Ekaristi. Inilah cikal bakal Stasi Mrican yang dalam menjaga kontak dengan paroki Baciro, sebulan sekali perayaan ekaristi di kapel Mrican di pimpin oleh romo paroki Baciro.
Melihat adanya benih perkembangan umat tersebut, Romo Joannes Stormmesand , SJ mulai membina umat, agar menjadi stasi tersendiri, dengan harapan kelak akan berkembang menjadi sebuah paroki. Usaha ini diwujudkan antara lain dengan memberkati suatu ruangan di rumah keluarga Bapak A.M, Djajus menjadi kapel untuk peribadatan dan sekaligus sebagai tempat pendidikan agama.
Pada tahun 1967 terjadi pergantian romo paroki Baciro dari romo Joannes Stormmesand , SJ ke romo Antonius Prodjosuto, SJ. Pergantian ini membawa perbedaan kebijakan dalam penggembalaan jemaat. Romo ini menghendaki agar kegiatan di seluruh wilayah paroki Baciro dipusatkan di gereja paroki. Akan tetapi, kebijakan itu berubah lagi ketika beliau di gantikan oleh Romo Franciscus Xaverius Tan Soe Ie, SJ pada tahun 1970. Beliau sangat menekankan agar kegiatan-kegiatan umat berkembang di lingkungan-lingkungan. Hal itu di teruskan oleh pengganti beliau pada tahun1977 yaitu romo Aloysius Utoyo Pr. Bahkan Romo Aloysius Utoyo memberikan perhatian khusus pada kegiatan di lingkungan-lingkungan yang berada di bagian utara paroki Baciro.
Pada masa kepemimpina romo Romo Franciscus Xaverius Tan Soe Ie, SJ dan romo Aloysius Utoyo, Pr lingkungan Mrican dan Kolombo dibina dan dikembangkan dan kedua lingkungan itu dimekarkan menjadi beberapa lingkungan. Ini terjadi pada tahun 1978. lingkungan Mrican dikembangkan menjadi 4 lingkungan yaitu Mrican, Pringgodani, Karangasem dan Deresan. Lingkungan Kolombo dikembangkan menjadi lingkungan Kolombo, Kepuh, Demangan dan Ambarukmo serta Janti.
Kegiatan di Kapel Sanata Dharma terbatas pada kegiatan Ekaristi saja. Akan tetapi, sesuai dengan perkembangan umat, kegiatan diperluas dengan penerimaan Sakramen-sakramen lain: Sakramen Tobat, penerimaan Komuni Pertama, Sakramen Baptis, Sakramen Krisma dan Sakramen perkawinan. Frekuensi perayaan Ekaristi juga dikembangkan menjadi 2 kali yaitu Sabtu sore dan Minggu pagi.
Perkembangan jumlah umat ini menimbulkan gagasan menjadikan wilayah ini sebuah stasi yaitu stasi Mrican. Perkembangan umat dengan segala kegiatan ini menuntut cara penggembalaan yang berkembang pula yaitu ditunjuknya salah seorang Romo Sanata Dharma membantu penggembalaan umat di paroki Baciro utara ini yaitu romo Franciscus Assisi Susilo, SJ membantu romo paroki Baciro.

Pada saat Romo Franciscus Assisi Sulio, SJ memulai tugas yaitu tahun 1980, beliau sangat merasakan umat dengan segala kegiatan membutuhkan wadah untuk berkoordinasi. Oleh karena itu, dibentuklah sebuah �Dewan Stasi� dengan struktur seperti dewan paroki yang di ketuai oleh bapak Gregorius Agung Karyono. Dewan stasi ini secara rutin bersidang dengan berpusat di Kapel Sanata Dharma. Secara informal telah berdiri �Stasi Mrican�. Dengan persetujuan dari provincial SJ sejak 1 Juli 1981. Keuangan stasi Mrican di kelola sendiri oleh Dewan Stasi. Sejak itu dewan stasi membuat perencanaan anggaran pendapatan dan pengeluaran sendiri.
Dalam rangka penerimaan Sakramen Krisma, pada tahun 1982 romo Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang berkunjung ke paroki Baciro, kesempatan ini digunakan oleh para wakil umat stasi Mrican untuk berdialog dengan romo vikaris dan mengemukakan keinginan untuk stasi Mrican ditingkatkan menjadi sebuah paroki. Keinginan itu ditanggapi secara positif dan secara resmi mendirikan Pengurus Gereja dan Papa Miskin (PGPM) di wilayah gereja St. Ignatius Mrican.
Masih pada tahun yang sama, para wakil umat berkesempatan bertemu dengan provisial SJ yaitu romo Julius Darmaatmaja, SJ. Kepada beliau di kemukakan keinginan untuk dapat menggunakan kapel Santo Ignatius Sanata Dharma sebagai gereja paroki. Pada dasarnya tidak berkeberatan, tetapi perlu dibicarakan dengan Yayasan Sanata Dharma.
Dengan Surat Keputusan No. 002/II/1983, tanggal 1 Februari 1983, Pengurus Gereja dan Papa Miskin membentuk suatu Panitia Persiapan Pendirian Paroki Mrican, yang di ketuai oleh bapak Agustinus Tutoyo. Panitia ini mempunyai tugas utama untuk mempersiapkan pembangunan panti Paroki dan pastoran termasuk pengadaan tanah dan dananya. Sementara itu permohonan penggunaan Kapel Sanata Dharma sebagai gereja paroki kepada dewan pengurus dan Kurator Yayasan Sanata Dharma telah dikabulkan dengan SK No, 042/AK. 84, tanggal 25 Juli 1984. Perkembangan umat pun terjadi dengan dipecahnya lingkungan Kepuh menjadi lingkungan Kepuh dan Samirono.
Setelah enam tahun menjabat sebagai pastor stasi, pada tahun 1986 romo Franciscus Assisi Susilo, SJ mendapat tugas belajar di Amerika. Tugas beliau dilimpahkan kepada romo Yohanes Madyasusanta, SJ. Pada tahun ini juga romo paroki Baciro di gantikan oleh romo Aloysius Wahya Soedibya, Pr dan di Bantu oleh romo Petrus Supriyanto, Pr. Pada saat itu pula terjadi perubahan lingkungan yaitu lingkungan Ambarukmo menjadi lingkungan Nologaten masuk stasi Mrican dan daerah selatan jalan Solo masuk paroki Baciro. Perkembangan lain juga terjadi di lingkungan Pringwulung pada tahun 1987 yang semula masuk paroki Banteng kini bergabung dengan stasi Mrican. Dengan penggabungan ini satasi Mrican memiliki 11 lingkungan yaitu lingkungan- lingkungan: Mrican, Kepuh, Kolombo, Samirono, Karangasem, Pringwulung, Kuningan, Pringgodani, Deresan, Ngropoh dan Nologaten. Berikutnya, lingkungan Pringwulung dipecah menjadi tiga lingkungan: yaitu Pringwulung I, II dan III, sehingga jumlah lingkungan menjadi 13 lingkungan.
Panitia Pembangunan Paroki yang telah dibentuk pada tahun 1983 telah berusaha untuk mendapatkan tanah dan dana untuk membangun panti paroki dan pastoran. Oleh karena masa baktinya berakhir, maka pada tanggal 15 mei 1989 dikeluarkan surat keputusan pastor kepala paroki baciro, Aloysius Wahyasudibya, Pr. No. 001/Rm.P./SK.P/DPGKRB/V/89 tentang pengangkatan panitia pembangunan gereja Mrican masa bakti 1989 � 1992 terhitung sejak 15 Mei 1989. Panitia ini di ketuai oleh bapak Johanes Baptista Daliyo, SH, dengan tugas pokok membangun gedung gereja. Saat itu sudah ada perubahan rencana. Kapel Sanata Dharma sudah tidak lagi direncanakan untuk gereja paroki. Umat menghendaki memiliki gereja, panti paroki dan pastoran sendiri. Keuskupan mendukung dengan menyediakan sebidang tanah di Pandean, Condong Catur, Depok Sleman, seluas 3165 M2.
Panitia mengalami kendala untuk mendapatkan ijin prinsip mendirikan gereja di Pandean Condong Catur ini. Ketika terjadi penggantian pejabat Bupati Sleman, panitia mengemukakan kebutuhan umat katolik desa Caturtunggal dan Condong Catur Sleman untuk mendirikan tempat ibadat. Bupati yang baru tanggap dan menaruh perhatian dan mengusahakan tukar guling tanah kas desa di Pringwulung yang mayoritas penduduknya beragama katolik. Dengan tukar guling tanah milik gereja di Pandean dengan tanah kas desa di Pringwulung. Panitia bekerja keras menghimpun dana untuk membangun gereja. Pada periode kedua, panitia pembangunan gereja tahun 1993 � 1996 yang di ketuai oleh bapak Johanes Baptista Daliyo, SH dan pengarahan romo stasi Mrican Romo Johanes Madyasusanto, SJ pembangunan gedung gereja di Pringwulung dapat diselesaikan.
Sejalan dengan penyiapan pembangunan gereja di atas, penyiapan umat juga di antisipasi. Dengan selesainya pembangunan gereja umat stasi Mrican di Pringwulung, maka penggembalaan umat stasi Mrican ditangani oleh romo paroki Baciro yaitu romo Johanes Murtono Harjono, Pr. Yang kemudian di gantikan oleh romo Aloysius Wahyasudibya, Pr dibantu oleh romo Simon Atas Wahyudi, Pr. Dengan kesepakatan umat stasi Mrican dan panitia gereja di Pringwulung memilih Santo Yohanes Rasul sebagai pelindungnya dan akan menjadi paroki Pringwulung sesuai dengan domisili gereja.

Masa Paroki Administratif
Setelah pembangunan gedung gereja selesai, pada tanggal 27 Desember1996 turunlah surat keputusan bahwa stasi Mrican di tingkatkan statusnya menjadi Paroki Administratif Santo Yohanes Rasul Pringwulung. Dengan berdirinya paroki administratif St. Yohanes Rasul Pringwulung, diangkatlah romo Simon Atas Wahyudi, Pr sebagai romo Paroki Administratif Santo Yohanes Rasul Pringwulung. Masa Paroki Administratif ini tergolong singkat, hanya satu tahun. Tidak banyak peristiwa terjadi pada masa paroki administrasi ini.
Masa Paroki
Satu tahun berikutnya ialah 27 Desember 1997 status paroki administratif ditingkatkan menjadi paroki mandiri dengan romo kepala parokinya yaitu Romo Simon Atas Wahyudi, Pr. Wilayah paroki St.Yohanes Rasul Pringwulung ini terletak dalam teritorial pemerintahan desa/kelurahan Caturtunggal, Kelurahan Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman serta Kelurahan Demangan Kecamatan Gondokusuman Kodya Yogyakarta.
Secara teritorial gerejani paroki Pringwulung berbatasan dengan sebelah timur : Paroki Santa Maria Assumpta Babarsari, sebelah utara paroki Petrus Paulus Minomartani, sebelah barat Paroki Keluarga Kudus Banteng dan Paroki Santo Antonius Kotabaru dan sebelah selatan paroki Kristus Raja Baciro.
Kemudiaan pada tanggal 1 Agustus 2002 Romo Simon Atas Wahyudi, Pr digantikan oleh Romo Bonifasius Benny Bambang Sumintarto, Pr. Pada masa kepemimpinan Rm Benny ini paroki berusaha untuk memekarkan pelayanan. Oleh karena itu dipikirkan adanya sarana dan prasarana pendukung, yaitu tempat. Maka paroki berusaha membeli tanah sekitar Gereja. Tanah tersebut milik desa. Proses pembelian tanah ini ternyata tidak mudah dan memakan waktu yang sangat panjang. Hingga tahun 2008 sudah tiga setengah tahun proses pengurusan dan belum selesai. Setelah 6 tahun berkarya Rm. Bonifasius Bambang Sumintarto, Pr, digantikan oleh Rm Ignatius Sukawalyana, Pr pada bulan Juli tahun 2008.
Pada awal masa kepemimpinan Rm Ignatius Sukawalyana, Pr. ini, beberapa lingkungan dimekarkan. Hal ini sejalan dengan adanya pembaharuan Pedoman Dasar Dewan Paroki Keuskupan Agung Semarang yang diresmikan pada tahun 2004. Dari 13 lingkungan yang telah ada semenjak paroki berdiri dikembangkan menjadi 21 lingkungan. Masing-masing lingkungan terdiri dari 20-50 kepala keluarga. Pemekaran lingkungan ini dimaksudkan supaya semakin banyak umat yang terlibat dalam kehidupan menggereja. Di samping itu juga memudahkan pelayanan dan administrasi. Pada bulan Januari 2011 Lingkungan Albertus Magnus Deresan dimekarkan menjadi 2 lingkungan yaitu Albertus Magnus Deresan dan Thomas Aquinas Karanggayam. Dengan demikian sejak bulan Januari 2011 jumlah lingkungan menjadi 22 lingkungan. Dari 22 lingkungan itu dikelompokkan dalam 5 wilayah yaitu wilayah Santo Petrus (4 lingkungan), wilayah Benedictus (4 lingkungan), wilayah Patrisius (4 lingkungan), wilayah Ignatius Loyola (4 lingkungan) dan wilayah Yakobus (6 lingkungan).
Kekhasan paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulung adalah banyaknya rumah komunitas susteran, komunitas karya dan biara di Pringwulung. Terdapat 22 rumah Komunitas susteran, 2 biara, dan 2 rumah tua (Domus Pacis dan Rumah istirahat Uskup Emeritus Prajasuta MSF), masih lagi beberapa rumah karya seperti Realino, Kampus Ministry, CB Samirono, dan kuwera. Yang juga menjadi tanda sangat kuat adalah hadirnya orang muda yang menutut ilmu di perguruan-perguruan tinggi di sekitar Yogyakarta. Orang muda itu yang sedang belajar itu sebagian besar tinggal diwilayah teritorial Paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulung dengan menyewa kamar kost atau rumah kost. Namun mereka tidak banyak terlibat di lingkungan. Sejauh ini yang sangat kuat dirasakan oleh paroki adalah bahwa mereka hadir dalam perayaan ekaristi hari Minggu di gereja Paroki.
Pada tanggal 13 Juli 2009 Panitia Peduli Gereja (PPG) selaku Panita Ad Hoc yang ditugasi oleh Dewan Paroki untuk mengurus proses pembelian tanah kas desa telah berhasil menyelesaikan pembelian tahah tersebut seluas 5.646 meter persegi. Dan sampai tahun 2010 ini pembuatan sertifikat atas tanah tersebut sedang dalam proses. Sesuai dengan pedoman harta benda paroki maka sertifikat tanah tersebut akan diatasnamakan PGPM Paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulung. Oleh karena itu jumlah luas tanah keseluruhan di Paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulung kurang lebih 10.000 meter persegi.
Mengakhiri narasi profil paroki ini, dituliskan teropong ke depan sehubungan dengan akan hadirnya lembaga sosial gereja milik Keuskupan Agung Semarang yang akan membangun kantor dan pusat pelayanannya di tanah gereja paroki Paringwulung yaitu Karina KAS. Kehadiran Karina KAS di Pringwulung akan sangat mempengaruhi suasana paroki di masa yang akan datang. Semoga seiring dengan gerak paroki yang titik beratnya membuat reksa pastoral rohani bagi umat seluruhnya, berkembang pula reksa pastoral sosial ekonomi bagi umat paroki dan masyarakat pada umumnya.
Seluruh gerak kegiatan paroki ini ke depan senantiasa ditempatkan dalam visi-misi paroki Santo Yohanes Rasul yaitu mewartakan sabda Tuhan, mengembangkan rahmat Allah, mengungkapkan dan mewujudkan iman dalam hidup menggereja dan hidup memasyarakat dengan penuh syukur hingga segala lidah mengaku: �Yesus Kristus adalah Tuhan�, dan bagi kemuliaan Allah Bapa. Sekian dan terimakasih.

Disarikan dari Buku Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki (PPDP) Paroki Pringwulung.
Sumber : http://pringwulung.org/main-menu/tentang-paroki/sejarah/
Pada awalnya
Tercatat dalam sejarah Gereja-gereja Katolik DIY bahwa sampai dengan tahun 1925, di kota Yogyakarta hanya ada satu gereja Katolik, yaitu gereja Santo Fransiscus Xaverius. Gereja ini terletak di sebelah selatan rumah (loji) orang-orang Belanda serta Kampemen Straat, sehingga gereja tersebut dikenal dengan nama gereja Kidul Loji. Kemudian pada zaman Jepang, nama Kampemen Straat diganti menjadi jalan Secodiningratan. Perkembangan lanjut, akhir tahun 1950-an, jalan Secodiningratan diganti menjadi jalan Senopati, sehingga gereja Santo Fransiscus Xaverius juga dikenal dengan nama gereja Senopati.
Umat gereja Santo Fransiscus Xaverius ini hanya orang-orang Belanda yang beragama Katolik sedangkan orang-orang Jawa Katolik dilarang memasuki gereja ini, kecuali para misdinar yang sedang bertugas. Padahal makin hari sedikit demi sedikit orang-orang Jawa memeluk Katolik. Untuk itu, di sebelah timur gereja Santo Fransiscus Xaverius didirikanlah sebuah geraja baru yang diberi nama gereja Santo Yusup.
Gereja Santo Yusup digunakan untuk ibadat umat Katolik Jawa dengan pengantar bahasa Jawa. Apalagi berkat jasa Rm. van Driessche SJ, yang tekun belajar bahasa Jawa, maka misa kudus di gereja Santo Yusup senantiasa dipersembahkan dengan pengantar bahasa Jawa. Kondisi ini menjadikan banyak orang Jawa tertarik untuk menjadi pengikut Kristus. Akibatnya, gereja Santo Yusup yang kecil dan sifatnya sementara, ternyata tidak dapat menampung seluruh umat yang datang untuk beribadat.
Untuk menampung banyaknya umat dan sebagai wadah untuk memperluas Pasamuwan Suci, maka didirikanlah secara berturut-turut beberapa gereja, yakni gereja Santo Antonius di Kotabaru (1926), gereja Santo Yusup di Bintaran (1934) sebagai pengganti gereja Santo Yusup Secodiningratan, dan juga pada tahun yang sama (1934) gereja Hati Kudus Tuhan Yesus di Pugeran.
Gereja Jawa
Gereja Pugeran dibangun di atas tanak milik beberapa penduduk yang dibeli oleh suatu yayasan misi di Yogyakarta yang bernama Yayasan Papa Miskin. Pembelian tanah ini diatasnamakan kepada Rm.A.Djajasepoetra, SJ. Tanah tersebut terletak di sebelah timur jalan Suryaden, yaitu jalan antara Pojok Beteng Kulon dan Bantul dan dikenal dengan nama Pugeran.
Pada tanggal 5 November 1933 diadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan gereja Pugeran. Upacara tersebut dipimpin Rm.Rietra SJ � saat itu bertugas di gereja Santo Fransiscus Xaverius di Secodiningratan (Kidul Loji) � dan didampingi Rm.de Kuyper SJ, dan Rm. A.Soegijapranata SJ serta dibantu oleh seorang awam L.Jama Sastrowinoto.
Gereja ini dibangun dengan corak Jawa, kombinasi antara joglo dan candi, dengan seorang arsitek J.Th.van Oyen. Kombinasi joglo dan candi merupakan ciri khas rumah-rumah orang Jawa. Gereja ini dibangun di tengah-tengah masyarakat Jawa dan diharapkan menonjol dengan coraknya yang njawani, sehingga komunikasi dan penyesuaian dengan masyarakat yang ada di sekitar gereja akan lebih lancar.
Suatu saat, datanglah hari yang paling dinantikan, yaitu hari Minggu Pon 8 Juli 1934, gereja Pugeran diberkati. Iring-iringan misdinar dan para romo konselebran berjalan menuju pintu utama gereja (sebelah barat). Ditandai dengan penyerahan kunci, dari kontraktor van Oyen kepada Rm.van Kalken. Selanjutnya romo memberkati gereja dan pastoran, yang diawali dengan memberkati pintu utama gereja, lalu berjalan ke arah kanan dan seterusnya mengelilingi bangunan sampai selesai. Di atas pintu utama gereja tertulis Ad Maiorem Dei Gloriam, yang artinya: �Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar�. Kalimat ini dapat dimaknai sebagai masuknya seni budaya ke dalam Gereja, suatu seni budaya yang dapat diajak kompromi dalam karya kerasulan Gereja.
Misa konselebrasi itu dipimpin oleh Rm.A.Van Kalken SJ, dengan diakon Romo Rektor Xaverius Muntilan, dan subdiakon Rm.A.Sukiman Prawirapratama SJ. Yang menarik adalah sambutan Rm.Sukiman dalam bahasa Jawa antara lain: �Gereja Tyas Dalem ing Pugeran punika awangun joglo ingkang sentosa, kasanggi saka guru sekawan. Punika saged dipun tegesi bilih piwulang Dalem Gusti Yesus punika dipun sanggi dening rasul sekawan ingkang dados juru Injil, inggih punika: Santo Mateus, Santo Markus, Santo Yohanes lan Santo Lukas�. Juga, sambutan terakhir dari Rm.Djajasepoetra SJ � romo paroki yang pertama � antara lain juga memberikan makna empat saka guru gereja itu, yakni melambangkan empat sikap kejawen yang mendukung pengabdian manusia kepada Tuhan. Keempat sikap itu adalah: (i) Gotong royong, (ii) Saling menghormati, (iii) Saling mengingatkan atau memaafkan, dan (iv) Rasa manunggal.
Pemberkatan gereja ini dipersembahkan kepada Hati Kudus TuhanYesus, sebagai ungkapan dan rasa syukur karena Tuhan berkenan melimpahkan kasihNya kepada ordo Serikat Yesus genap 75 tahun berkarya di Indonesia. Atas kemurahan-Nya pula, pada saat itu umat dikaruniai sebuah gereja dan pastoran di Pugeran. Gereja yang memiliki pelindung Hati Kudus, dimaksudkan agar menjadi tanda untuk selalu berterima kasih atas rahmat dan karuniaNya, dan untuk selalu mohon berkat dan perlindungan-Nya bagi masa depan.
Oleh sebab itu, di depan gereja ditempatkan patung Hati Kudus Tuhan Yesus yang besar. Sebuah patung Tuhan Yesus sedang mengulurkan tangan dan memberi berkat kepada setiap orang yang datang. Di bawah patung terpahat rangkaian kata-kata indah Iya Ingsun Karahayonira. Ketika masuk ke dalam gereja akan terlihat rangkaian tulisan cukup besar yang terletak di atas altar Salus Vestra Ego Sum. Artinya, �Akulah Keselamatanmu�. Demikian sabda Yesus: �Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu� (Mat 11:28). Sesungguhnya rangkaian kata-kata Iya Ingsun Karahayonira ini merupakan hasil pemenang sayembara menerjemahkan Salus Vestra Ego Sum. Pemenangnya adalah N. Suhirman, siswa seminari menengah di Yogyakarta. Selanjutnya Suhirman dikenal sebagai Driyarkara, pastor Jesuit sekaligus doktor filsafat yang sangat berjasa dalam perkembangan filsafat di Indonesia.
Semangat Perjuangan di Masa Perang Kemerdekaan
Penjajah silih berganti. Pemerintah Hindia Belanda menyerah, lalu datanglah bala tentara Jepang. Apa yang terjadi? Ketika itu Rm. Reksaatmodjo,SJ mendapat tugas di gereja Pugeran, menggantikan Rm.A.Djajasepoetra SJ� romo pertama di paroki Pugeran � yang dipindah tugas ke Kolose Ignatius Kotabaru. Namun malang nasib Romo Reksa. Ia ditangkap tentara Jepang pada 10 Juli 1942 lalu disiksa.
Selang waktu berikut, Jepang pergi, tapi Belanda datang lagi dengan membonceng tentara Sekutu. Pada 11 Desember 1948 Belanda memutuskan perjanjian dengan Indonesia. Dan terjadilah agresi militer kedua, atau akrab disebut �Clash Kedua�. Sekitar seminggu lebih atau tepatnya 19 Desember 1948, tentara Belanda mengebom Bandara Maguwo. Kota Yogyakarta menjadi lumpuh.
Pada hari itu juga, banyak orang mengungsi menuju ke arah selatan dari kota Yogyakarta. Jadilah halaman gereja Pugeran penuh dengan para pengungsi. Namun ngerinya, ternyata tentara Belanda sudah menguasai kawasan Pojok Beteng Kulon, sementara itu rumah-rumah sebelah selatan Pojok Beteng Kulon telah dibakar.
Romo A. Sandiwan Brata Pr. terpanggil hatinya untuk melindungi dan mengayomi para pengungsi. Ia mengusahakan obat-obatan dan makanan bagi para pengungsi, merawat yang terluka dan sakit. Sementara itu, di jalan depan gereja Pugeran tampaklah mayat-mayat bergelimpangan. Romo Sandiwan amat berani menanggung risiko. Beliau mengambil mayat-mayat itu lalu menguburkan secara layak. Tak ketinggalan Romo Sandiwan melangkah ke luar gereja, yakni menjamin keamanan dan kesejhateraan para pengungsi yang berada di Dalem Condronegaran. Walau situasinya gawat, dan sudah berulangkali Romo Sandiwan ditangkap tentara Belanda, toh beliau dibebaskan � berkat keteguhan imannya.
Akhirnya, pada tanggal 29 Juni 1945 tentara Belanda ditarik dari kota Yogyakarta. Keadaan mulai tenang. Para pengungsi di gereja Pugeran dan Dalem Condronegaran kembali ke rumah masing-masing. Peranan gereja Hati Kudus Tuhan Yesus dalam memperjuangkan negara dan bangsa Indonesia � khususnya masa perjuangan fisik 1948-1949 - diabadikan pada monumen Pesta Emas berupa prasasti. Monumen dan prasasti dibangun di depan gereja, tepatnya di belakang patung Hati Kudus Tuhan Yesus. Monumen tersebut diresmikan oleh Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam VIII dan Uskup Agung Semarang Mgr. Julius Darmaatmadja SJ, bertepatan dengan 50 tahun Pesta Emas Gereja Pugeran.
Prasasti itu berbunyi: �Di bawah naungan Hati Kudus Juru Selamat Kristus para pastor beserta umat paroki Pugeran dengan penuh bakti serta syukur memperingati hari ulang tahun ke-50 Gereja Hati Kudus tercinta ini; khususnya dengan kenang-kenangan bahagia bahwa pada hari-hari yang paling gelap penuh derita 19 Desember 1948 � 19 Juni 1949 selama Perang Kemerdekaan Republik Indonesia tempat ini telah menjadi pengungsian dan perlindungan bagi penduduk tak bersalah di sekitar gereja Pugeran dan merupakan tempat penghubung rahasia pula antara para pejuang gerilyawan Perang Kemerdekaan Republik Indonesia yang bergerak di dalam dan di luar kota Yogyakarta�.
Peristiwa meletusnya pemberontakan G30S/PKI cukup mendebarkan umat paroki Pugeran. Mengapa? Ada perang urat syaraf bahwa gereja akan dibakar. Para romo dan tokoh Katolik akan diculik dan dibunuh, dan sebagainya. Kaum muda Katolik senantiasa stand by menjaga gereja. Selain itu, peminat pelajaran agama Katolik meningkat. Ketika itu tercipta kondisi yang membuat masyarakat takut dicap PKI, karena tidak secara nyata memeluk agamanya. Namun warga gereja justru semakin berhati-hati dalam bertindak, karena PKI mengadakan penyusupan ke dalam kelompok masyarakat yang beragama.
Tradisi Nawa Brata
Ada tradisi bagi masyarakat Jawa di Yogyakarta dan sekitarnya, untuk mengadakan tirakatan atau renungan pada hari-hari tertentu, misalnya malam Selasa Kliwon, malam Jumat Kliwon, malam 1 Sura, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini juga dilakukan oleh sebagian umat Katolik yang masih melestarikan tradisi leluhurnya, misalnya pada malam 1 Sura memutari benteng kraton Yogyakarta.
Gereja Pugeran pernah mengadakan malam renungan Nawa Brata pada tahun 1972. Kata Nawa Brata berasal dari bahasa Jawa, yaitu Nawa berarti sembilan, dan Brata berarti langkah atau tahap (bahasa Jawa: lampah). Setiap langkah diadakan setiap malam Jumat Kliwon mulai pukul 22.00 WIB pada bulan Sura, dan setelah sampai tahap kesembilan lalu berhenti. Selanjutnya pada bulan Sura dimulai lagi tahap pertama, dan seterusnya.
Nawa Brata ini dilaksanakan dalam bentuk Ibadat Sabda, namun pada langkah pertama dan langkah kesembilan dibuka dan ditutup dengan Misa Kudus. Perayaan Ibadat Sabda maupun Misa Kudus disampaikan dalam bahasa Jawa, diiringi gending dan macapat, dan seluruh petugas berbusana Jawa lengkap.
Dalam suasana hening, Romo atau Prodiakon mentahtakan Sakramen Maha Kudus di atas tabernakel. Tema tiap langkah dibuat berurutan dari langkah pertama sampai dengan langkah kesembilan; dan semuanya diambil dari Kitab Suci. Bacaan-bacaan Kitab Suci setelah dibacakan, kemudian dilagukan dalam tembang macapat. Syair macapat digubah oleh kaum awam, antara lain tokoh penggubahnya adalah C.Sosroatmojo dan Katidjo Wiropramoedjo.
Seusai komuni diterimakan, malam renungan Nawa Brata ditutup dengan Doa Penutup. Kemudian Sakramen Maha Kudus yang semula ditahtakan di atas tabernakel, dimasukkan kembali ke dalam tabernakel.
Peminat tradisi Nawa Brata ini sebagian besar kalangan kasepuhan, yang ingin merenung dan berdoa dalam suasana hening. Sekarang refleksinya: mengapa tradisi Nawa Brata ini tidak pernah terdengar lagi? Mungkinkah dihidupkan kembali dengan melibatkan kaum muda?
Jelang Hari Esok
Wilayah paroki Pugeran mempunyai luas sekitar 6.400 hektar atau 64 km2. Di sebelah utara berbatasan dengan paroki St.Fransiscus Xaverius Kidul Loji; sebelah timur berbatasan dengan paroki St.Yusup Bintaran; sebelah selatan berbatasan dengan paroki St.Yakobus Rasul Bantul; dan sebelah barat berbatasan dengan paroki St.Maria Assumpta Gamping.
Mengingat begitu luasnya wilayah paroki Pugeran, maka untuk mempermudah pelayanan kepada umat dibagi menjadi kring-kring. Semula � sejak berdirinya � paroki Pugeran terdiri dari 10 kring, yakni Kring I sampai dengan Kring X. Setiap kring dipimpin oleh Ketua Kring. Pada tahun 1972 diadakan penataran pamong kring se Kotamadya Yogyakarta antara lain menentukan syarat-syarat untuk dipilih menjadi Ketua Lingkungan.
Untuk membantu Romo dalam menggembalakan umat, maka dibentuk Dewan Paroki, dan juga di lingkungan dibentuk Pengurus Lingkungan. Sedangkan untuk memperlancar pelaksanaan tugas, beberapa lingkungan digabungkan menjadi satu sektor. Paroki Pugeran membawahi empat sektor, yakni: (i) sektor gereja Pugeran, (ii) sektor gereja Brayat Minulyo, (iii) sektor Kraton, dan (iv) sektor Padokan. Setiap sektor dipimpin oleh seorang Ketua Sektor.
Pada tahun 1958,dari 10 kring yang ada dikembangkan menjadi 16 kring. Selanjutnya jumlah kring semakin berkembang, dan pada tahun 1972 jumlah kring menjadi 28 kring. Pemberian nama kring tidak lagi menggunakan angka romawi, namun diganti dengan nama kampung induknya. Dua tahun berikutnya, yaitu th. 1974, bertepatan dengan Panca Windu Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, jumlah kring/lingkungan telah berkembang menjadi 30 kring/lingkungan.
Selanjutnya, epuluh tahun kemudian, th. 1984, bertepatan dengan Pesta Emas Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, jumlah lingkungan menjadi 32 lingkungan. Menjelang perayaan Pesta Emas itu, Dewan Paroki Pugeran menyelenggarakan sensus umat. Hasilnya jumlah umat se Paroki Pugeran sebanyak 9.784 jiwa terdiri atas 4 sektor, yakni: (i) Sektor Gereja (14 lingkungan) sebanyak 4.331 jiwa; (ii) Sektor Kraton (8 lingkungan) sebanyak 1.866 jiwa; (iii) Sektor Padokan (4 lingkungan) sebanyak 1.336 jiwa; dan (iv) Sektor Wirobrajan (6 lingkungan) sebanyak 2.251 jiwa.
Ketika Rm St. Suhartono Pr (1986-1989) dan Rm. J. Hadiwikarta Pr. (1989-1991) berkarya di paroki Pugeran, nama sektor diubah menjadi wilayah, dan jumlah lingkungan pun bertambah. Kemudian pada masa karya Rm.H. Natasusila (1991-1994) jumlah lingkungan terus berkembang menjadi 45 lingkungan, terbagi dalam 7 wilayah dan 1 stasi. Adapun wilayah dan stasi tersebut sebagai berikut: (i) Wilayah Kraton, (ii) Wilayah Gereja Barat, (iii) Wilayah Gereja Tengah, (iv) Wilayah Gereja Timur, (v) Wilayah Padokan; (vi) Wilayah Wirobrajan; (vii) Wilayah Gunung Sempu, dan (viii) Stasi Bangunharjo.
Dewasa ini pada usianya 72 tahun, jumlah lingkungan menjadi 52 lingkungan, dan jumlah umatnya sebanyak 11.411 jiwa (tahun 2005). Uniknya, sesungguhnya gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran ini memiliki 4 gereja wilayah sebagai berikut:
1. Gereja Santo Yusup Padokan, berdiri di atas tanah sekitar 1.000 m2 atas �sumbangan� PG Madukismo. Untuk pertama kalinya Misa Kudus dipersembahkan Rm.A.Wignyomartoyo Pr di gereja ini pada Minggu Kliwon, 6 Juni 1971. Dan, hari itu dinyatakan sebagai hari jadi Gereja Santo Yusup Padokan.
2. Gereja Brayat Minulyo Wirobrajan, berdiri di atas tanah seluas 840 m2 atas persembahan keluarga JP Poedjosubroto. Gereja ini memaknai spiritualitas Keluarga Kudus, yang diberkati Mgr.Julius Darmajuwono pada 12 Juli 1980.
3. Gereja Santo Martinus Bangunharjo, berdiri di atas tanah hibahan dari keluarga Martinus Darmoyuwono. Misa pemberkatan dipersembahkan Rm.JM Harjoyo Pr pada Minggu Pantekosta, 30 Mei 1982.
4. Gereja Salib Suci Gunung Sempu, berdiri di atas bukit seluas 1.295 m2, dengan pelindung Salib Suci. Diberkati Mgr.Julius Darmaatmadja SJ pada 20 Mei 1990.
Bertitik tolak pada PDDP-KAS 2004 (Pedoman Dasar DewanParoki � Keuskupan Agung Semarang) menyebutkan pengertian lingkungan (pasal 1) bahwa lingkungan adalah paguyuban umat beriman yang bersekutu berdasarkan kedekatan tempat tinggal dengan jumlah antara 10-50 kepala keluarga. Lalu penjelasannya, bila jumlah kepala keluarga dalam lingkungan lebih dari 50, lingkungan harap dimekarkan menjadi lebih dari satu lingkungan. Implikasinya, umat bersama Dewan Paroki telah mengadakan pemekaran Lingkungan dan Wilayah.
Data terakhir terhitung mulai tanggal 1 Nopember 2006, Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran memiliki 78 Lingkungan yang tercakup dalam .... .. wilayah (data masih menunggu).
Akhirnya, semoga Hati Kudus Tuhan Yesus yang menjadi pelindung paroki kita ini, sungguh menuntun dan mendampingi perjuangan kita. Berkah Dalem. ***
Sumber : http://historiadomus.multiply.com/
Gambar : http://baitallah.wordpress.com/